unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Parlemen Mesir Akan Putuskan Keterlibatan Militer di Konflik Saudi-Yaman
News

Parlemen Mesir Akan Putuskan Keterlibatan Militer di Konflik Saudi-Yaman

Ilustrasi parlemen Mesir dan konflik militer di Yaman
Parlemen Mesir Akan Putuskan Keterlibatan Militer di Konflik Saudi-Yaman
A A Ukuran Teks16px

Parlemen Mesir diperkirakan menggelar pemungutan suara pekan depan untuk menentukan apakah angkatan bersenjata diizinkan membantu pertahanan Arab Saudi.

Langkah ini menempatkan negara berpenduduk terbesar di dunia Arab itu semakin dekat pada keterlibatan militer langsung dalam konflik yang meluas.

Presiden Abdel Fattah al-Sisi meminta persetujuan tersebut dalam pidato pada Sabtu.

Ia menegaskan Mesir tidak akan melupakan negara-negara Teluk dan siap mengambil langkah apa pun untuk melindungi Arab Saudi.

Pergeseran Sikap Kairo

Pernyataan Sisi menandai eskalasi dari sikap hati-hati yang sebelumnya diambil otoritas Mesir sejak perang Iran dimulai.

Mesir berulang kali menyatakan dukungan kuat bagi sekutu Teluk, tetapi belum secara terbuka berkomitmen pada peran tempur langsung.

Pada Mei, keberadaan jet tempur Rafale Mesir di Uni Emirat Arab terungkap dalam liputan media negara itu, sementara pemberitaan Mesir tidak menyebutnya.

Ketika Arab Saudi menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Turki dan Pakistan pada Agustus, Mesir tidak bergabung meski menyatakan sedang mempertimbangkannya.

Nada mulai berubah setelah Houthi meningkatkan serangan terhadap infrastruktur minyak dan fasilitas Saudi lainnya.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bulan lalu mengunjungi Mesir dan membahas jaminan kebebasan navigasi di Selat Bab el-Mandeb serta Laut Merah.

Kepentingan Ekonomi dan Keamanan

Stabilitas ekonomi Mesir telah lama terkait dengan negara-negara Teluk penghasil minyak.

Kiriman uang dari pekerja migran Mesir di sana menjadi sumber devisa penting di tengah inflasi dua digit yang diperburuk lonjakan harga pangan dan bahan bakar.

Arab Saudi, UEA, dan negara Teluk lain termasuk pendukung finansial utama Sisi sejak 2013, menyediakan bantuan, deposito bank sentral, dan investasi senilai puluhan miliar dolar.

Data bank sentral menunjukkan Arab Saudi memiliki deposito 5,3 miliar dolar di bank sentral Mesir yang jatuh tempo bulan ini, ditambah bunga 267 juta dolar.

Kekhawatiran keamanan juga mendorong Kairo ke sikap lebih aktif.

Serangan drone terhadap dua kapal gas di pelabuhan Damietta pada Juli menunjukkan Mesir tidak bisa sepenuhnya mengisolasi diri dari konflik.

Menurut H. A.

Hellyer dari Royal United Services Institute, otoritas Mesir menyadari tidak bisa berada di pinggir selamanya karena kepentingan ekonomi dan keamanan saling terkait.

Arab Saudi dan Mesir juga berkepentingan mengamankan pelayaran di Laut Merah, jalur ekspor minyak Saudi yang terhalang dari Selat Hormuz.

Mesir meraup miliaran dolar per tahun dari biaya lalu lintas Terusan Suez.

Peneliti politik Mesir Sherif Aref menilai keamanan Arab Saudi merupakan dimensi keamanan nasional Mesir.

Mesir memiliki salah satu angkatan bersenjata terbesar di dunia Arab dengan ratusan ribu personel aktif serta persediaan udara, darat, dan laut yang besar.

Angkatan udara Mesir mengoperasikan F-16 buatan AS, Rafale Prancis, dan MiG-29 buatan Rusia.

Mesir menerima sekitar 1,3 miliar dolar bantuan militer AS per tahun, dan Washington tahun ini membebaskan persyaratan hak asasi manusia atas sebagian dana tersebut.

Sejak 2011, militer Mesir berperang melawan militan Islamis di Semenanjung Sinai.

Mesir juga pernah mengirim pasukan udara dan laut ke koalisi pimpinan Saudi yang campur tangan di Yaman pada 2015, serta menyerang target ISIS di Libya.

Mesir tidak melakukan pengerahan darat besar-besaran ke luar negeri sejak Perang Teluk 1991.

Pidato Sisi tidak merinci jenis kekuatan militer yang mungkin dikirim.

Analis militer menilai pengerahan pasukan darat Mesir ke Yaman kecil kemungkinannya.

Menurut Samir Ragheb, pensiunan perwira militer Mesir, intervensi lebih mungkin berupa dukungan pertahanan udara dan angkatan laut.

Ancaman rudal dan drone membutuhkan pertahanan udara dan angkatan udara, sementara angkatan laut dapat melindungi kapal dan garis pantai Saudi.

Andreas Krieg dari King's College London menilai masuknya militer konvensional Arab lain tidak akan serta-merta menyelesaikan masalah Houthi.

Menurutnya, Houthi sulit diatasi karena efek disproposional dari rudal, drone, kekuatan tersebar, dan geografi.

Mesir hanya dapat memperkuat ketahanan Saudi, meningkatkan kendali Laut Merah, berbagi beban pertahanan, dan menaikkan biaya politik serangan berkelanjutan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru