unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Dolar Singapura Tembus Rp14.084, Dekati Rekor Tertinggi: Rupiah Masih Tertekan
News

Dolar Singapura Tembus Rp14.084, Dekati Rekor Tertinggi: Rupiah Masih Tertekan

Dolar Singapura Tembus Rp14.084, Dekati Rekor Tertinggi: Rupiah Masih Tertekan
Rupiah Menguat 4 Hari Beruntun, Jadi Mata Uang Terbaik Asia
A A Ukuran Teks16px

JAKARTA – Nilai tukar dolar Singapura menembus Rp14.084 per SGD pada penutupan Senin (19/10/2026), mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di Rp14.106 yang tercatat pada 30 Juli 2026. Penguatan mata uang Negeri Singa ini menjadi cermin betapa tertekannya rupiah belakangan ini.

Berdasarkan data Refinitiv, dolar Singapura menguat 0,14 persen secara harian pada penutupan Senin. Sejak awal 2026, SGD telah naik 8,70 persen terhadap rupiah, dan menguat 10,06 persen dalam setahun terakhir.

Money Changer Kebanjiran Penjual Dolar Singapura

Fenomena menarik terjadi di money changer Jakarta. Supervisor Daffa Indo Valuta, Aris Permana, menyebut penjualan dolar Singapura justru lebih ramai dibandingkan dolar AS. Pada Senin pagi saja, sekitar 20.000 SGD ditukarkan oleh nasabah. "Banyak yang jual itu mata uang Singapura. Sebetulnya yang signifikan naik itu bukan Amerika dolar, melainkan Singapura," ujarnya sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.

Sebagai catatan, kurs beli money changer untuk pecahan 1.000 SGD mencapai Rp15.950 per SGD, sedangkan pecahan 100 SGD dihargai Rp14.000 per SGD. Angka tersebut merupakan kurs beli di money changer, bukan kurs resmi pasar.

Ilustrasinya, 20.000 SGD yang pada akhir 2025 bernilai sekitar Rp259,15 juta kini setara dengan sekitar Rp281,70 juta — selisih keuntungan sekitar Rp22,54 juta sebelum memperhitungkan selisih kurs jual-beli dan biaya.

Dolar AS di Money Changer Tembus Rp18.120

Sementara itu, di money changer Dolarindo Tebet, Jakarta Selatan, kurs jual dolar AS mencapai Rp18.120 per dolar AS pada Selasa (20/10/2026), dengan kurs beli Rp17.900. Staf money changer bernama Rian menyebut kurs beli dolar AS naik dari Rp17.600 pada Senin pekan sebelumnya menjadi Rp17.900 dalam waktu sekitar sepekan, atau naik 300 poin.

Kenapa Rupiah Tertekan?

Ada tiga faktor utama. Pertama, rupiah sendiri yang melemah — kurs spot ditutup di Rp18.046 per dolar AS pada Senin (19/10/2026), melemah 0,11 persen, setelah pertama kali menembus Rp18.000 pada Jumat (16/10/2026). Kedua, otoritas moneter Singapura (MAS) mempercepat laju penguatan mata uangnya terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang pada April dan Juli 2026, dan pada keputusan 14 Oktober 2026 mempertahankannya untuk mengendalikan harga impor. Ketiga, sentimen domestik dari konsultasi MSCI soal penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market yang menekan IHSG — pada Selasa (20/10/2026) pukul 10.29 WIB indeks turun 5,17 persen ke level 4.916,81 setelah anjlok 11,12 persen pada Jumat sebelumnya.

Kabar baiknya, pada Rabu (21/10/2026) pagi rupiah justru menguat tipis. Kurs spot berada di Rp17.990 per dolar AS, menguat 0,01 persen dari penutupan sebelumnya, sementara kurs Bloomberg tercatat Rp17.982. Penguatan ini diduga didukung intervensi Bank Indonesia menjelang pengumuman hasil RDG hari ini.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru