SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Italia pasca-Perang Dunia II tidak punya studio yang utuh — jadi para sineasnya membuat film di jalanan, dengan orang-orang yang benar-benar hidup di reruntuhan itu. Hasilnya, neorealisme: sinema paling jujur yang pernah ada. Ini lima karya puncaknya, yang kini bisa disaksikan antara lain di Criterion Channel.
Umberto D. (1952) — Perpisahan yang Sunyi
Vittorio De Sica menutup era emas gerakan ini lewat kisah pensiunan tua (diperankan dosen amatir Carlo Battisti) yang terancam diusir dari kamar sewanya di Roma yang sedang dilanda inflasi. Ditemani hanya oleh anjingnya, ia melawan kesepian dan rasa malu — kritik sosial tentang lansia yang ditelantarkan negaranya, disampaikan tanpa satu pun adegan meledak-ledak.
La Terra Trema (1948) — Nelayan Melawan Tengkulak
Luchino Visconti membawa kamera ke desa nelayan Aci Trezza, Sisilia, dan menjadikan seluruh warganya aktor. Satu keluarga mempertaruhkan rumahnya untuk membeli perahu sendiri dan lepas dari tengkulak ikan; badai dan tekanan sosial menghancurkan mimpi itu. Tentang kemiskinan struktural, film ini tetap terasa seperti laporan berita hari ini.
Bicycle Thieves (1948) — Sepeda yang Menentukan Nasib
Ikon neorealisme dari De Sica. Seorang ayah pengangguran akhirnya dapat pekerjaan yang mensyaratkan sepeda — dan sepedanya dicuri di hari pertama. Pencariannya keliling Roma bersama sang putra berubah menjadi potret keputusasaan kelas pekerja, dimainkan aktor non-profesional termasuk buruh pabrik sungguhan sebagai pemeran utama.
Shoeshine (1946) — Anak-anak Korban Perang
Dua penyemir sepatu cilik di Roma menabung demi seekor kuda, lalu terseret kasus kriminal yang tidak mereka pahami ke dalam sistem peradilan anak yang bengis. De Sica memotret kehancuran masa kanak-kanak akibat perang — dan dunia menjawabnya dengan Academy Award kehormatan.
Rome, Open City (1945) — Titik Nol Neorealisme
Semua berawal di sini: film Roberto Rossellini tentang perlawanan bawah tanah Roma melawan Nazi, dibintangi Anna Magnani dan Aldo Fabrizi, disyut di kota yang masih berupa puing. Keberanian dan pengorbanan warga biasa di dalamnya menjadi cetak biru gerakan yang kemudian menginspirasi sineas di seluruh dunia.
Tanpa bintang, tanpa set mewah, tanpa akhir bahagia yang dipaksakan — kelima film ini membuktikan realitas itu sendiri adalah drama terbesar.
