unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Perselisihan Royalti Arm dan Qualcomm Bisa Picu Kenaikan Harga HP Flagship
Hiburan

Perselisihan Royalti Arm dan Qualcomm Bisa Picu Kenaikan Harga HP Flagship

Ilustrasi chip prosesor dalam perselisihan royalti Arm dan Qualcomm
A A Ukuran Teks16px

Industri semikonduktor global menghadapi potensi pergeseran struktur biaya manufaktur yang drastis.

Perselisihan hukum antara Arm dan Qualcomm mengenai lisensi instruksi Armv10 generasi mendatang mengungkap selisih angka finansial yang signifikan.

Tuntutan royalti baru dari Arm berpotensi menaikkan beban lisensi hingga puluhan kali lipat dari skema kontrak terdahulu.

Kondisi ini berisiko menciptakan efek domino terhadap penetapan harga gawai di tingkat konsumen.

Skema Tarif Baru dan Lonjakan Biaya

Persidangan terbuka kedua entitas membeberkan bahwa skema tarif Armv10 dapat menyedot porsi antara 12,8 persen hingga 29,5 persen dari harga jual satu unit cip Qualcomm.

Angka ini melonjak tajam dibandingkan porsi royalti dalam kesepakatan saat ini yang hanya berada di kisaran 0,85 persen.

Perubahan kalkulasi ini memicu perdebatan sengit mengenai batas kewajaran tarif lisensi teknologi inti di tengah melambungnya biaya riset dan pengembangan komponen digital modern.

Guna memahami skala ketimpangan tarif ini, peta kesepakatan harus ditarik mundur ke Architecture License Agreement (ALA) tahun 2013.

Kontrak yang berlaku hingga 2033 tersebut menetapkan batas atas pembayaran royalti sebesar Rp33 ribuan ($1.88) per unit untuk chip prosesor yang memiliki lima inti CPU atau lebih.

Batasan ini dihitung berdasarkan rumus porsi 1,25 persen dari harga jual prosesor yang nilainya dibatasi maksimal Rp2,7 jutaan ($150).

Melalui kalkulasi skema lama tersebut, Qualcomm pada dasarnya hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp4 ribuan ($0.23) per inti untuk prosesor delapan inti.

Artinya, satu unit komponen Snapdragon berarsitektur delapan inti kustom hanya dibebani total royalti lisensi sebesar Rp33 ribuan ($1.875).

Nilai fix ini sangat menguntungkan Qualcomm dalam menjaga margin keuntungan saat harga jual prosesor terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tim kuasa hukum Qualcomm mengungkapkan dalam persidangan bahwa penawaran struktur tarif Armv10 mencatatkan kenaikan hingga 15 kali lipat dibanding tarif yang dibayarkan saat ini.

Bahkan, proyeksi perhitungan pakar independen untuk rentang tahun 2034 hingga 2040 menunjukkan potensi kenaikan biaya yang fantastis, mencapai 34,5 kali lipat dari nilai acuan dasar.

Jika proyeksi pengali tersebut diterapkan secara langsung pada batas atas biaya saat ini sebesar Rp33 ribuan ($1.88), maka beban royalti per chip akan melambung tinggi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru