Sehari setelah peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, umat Islam melaksanakan salat Jumat pada 23 Oktober 2026. Sejumlah naskah khutbah Jumat bertema kesantrian pun ramai dibagikan, salah satunya karya Muhammad DN, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Dalam naskah berjudul "Santri Ideal Berakhlak Mulia, Berilmu dan Bermanfaat" yang dimuat Suara Muhammadiyah, Muhammad DN membuka dengan kalimat "Kemaren kita memperingati hari santri nasional". Ia menegaskan santri ideal memiliki tiga ciri utama: berakhlak mulia, berilmu, dan bermanfaat bagi sesama.
Menurut penulis, santri masa kini tidak cukup hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga harus melek ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menggambarkan santri ideal sebagai sosok yang membuka laptop sekaligus membuka kitab, memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan kemajuan zaman.
Landasan Syariat dan Pengakuan Negara
Naskah khutbah tersebut mengutip dua ayat Al-Qur'an, yakni QS Al-Mujadilah ayat 11 dan QS At-Taubah ayat 122, yang menegaskan keutamaan orang-orang berilmu. Penulis juga merujuk Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren sebagai bentuk pengakuan negara terhadap peran pesantren dalam pendidikan nasional.
Khutbah ditutup dengan doa agar anak-anak menjadi generasi yang saleh dan salehah, berakhlak mulia, berilmu luas, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.
Rangkaian Khutbah Hari Santri
Momentum ini sejalan dengan langkah Kementerian Agama yang menerbitkan dua naskah khutbah resmi Hari Santri 2026 bertema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" untuk dibawakan pada 16 dan 23 Oktober 2026. Dirjen Pesantren Basnang Said menyebut naskah tersebut bertujuan merawat semangat perjuangan ulama dan santri serta menginspirasi pengabdian kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Sebagai alternatif bacaan, NU Online pekan ini memuat khutbah bertema "6 Teladan Nabi Yahya bagi Generasi Muda" karya Ahmad Nashih Luthfi, yang menekankan pentingnya iman, ilmu, dan akhlak bagi generasi muda dengan merujuk QS Maryam ayat 12–15.