Film Laut Bercerita mendapat skor 3,5 dalam ulasan yang memuji penantian Asmara sebagai kekuatan terbesarnya, sekaligus menyayangkan alur yang terasa terburu-buru.
Ulasan itu menilai film garapan Yosep Anggi Noen, dengan Leila S. Chudori ikut menjaga naskahnya, belum sepenuhnya lepas dari apa yang disebutnya kutukan adaptasi novel laris. Novel 2017 itu sendiri tercatat terjual 500 ribu eksemplar per Juli 2025.
Skor 3,5 dan Kutukan Adaptasi
Meski sumber daya yang dimiliki melimpah, ulasan menilai cerita film tidak mengalir semulus yang diharapkan. Pembuka film dinilai melompati peristiwa-peristiwa kunci terlalu cepat, alih-alih membangun emosi secara perlahan seperti yang dilakukan novelnya.
Kelebihan: Visual, Musik, dan Casting
Sejumlah unsur mendapat pujian. Desain produksi Ahmad Zulkarnaen, sinematografi Batara Goempar yang menghadirkan atmosfer akhir 1990-an secara presisi, serta musik Ofel Obaja Setiawan disebut sebagai penopang film. Jajaran pemerannya juga dipuji: Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Christine Hakim sebagai Ibu, Arswendy Bening Swara sebagai Bapak, ditambah Kevin Julio sebagai Daniel, Ben Nugroho sebagai Alex, dan Dewa Dayana sebagai Sunu. Pilihan casting director Widhi Susila dinilai tepat untuk menjembatani ekspektasi pembaca.
Kelemahan: Alur Terburu-buru dan Ratih
Di sisi lain, beberapa momen ikonik buku tidak hadir, dan ruang yang terbatas merugikan pengembangan karakter. Penculikan Laut dan kawan-kawan oleh aparat, misalnya, terasa kurang tajam dibanding novelnya. Bagian yang paling disayangkan adalah Ratih Anjani yang diperankan Eva Celia: di novel ia sosok yang sangat berduka karena kehilangan kekasihnya, tetapi di film ia lebih sering tampil konyol dan menjengkelkan, dan penyangkalannya atas hilangnya Laut tidak digambarkan cukup kuat sehingga kehilangan simpati penonton.
Penantian Asmara sebagai Jangkar
Kekuatan utama film, menurut ulasan, adalah fokus pada penantian Asmara Jati yang diperankan Yunita Siregar. Asmara digambarkan sebagai kakak, anak dari orang tua yang berduka, dan kekasih yang ditinggalkan, dengan kebingungan, duka, dan keteguhan mencari kepastian tentang nasib kakaknya. Namun sentralisasi Asmara membuat Bapak, Ibu, dan sahabat-sahabat Laut kekurangan ruang. Menjelang akhir, Anggi Noen dinilai kembali mengendalikan film dan menghadirkan final yang mengharukan ala Biru Laut legendaris, meski belum mencapai potensi terbaiknya.
