Penjualan konsol Nintendo Switch 2 mengalami penurunan tajam setelah pabrikan menaikkan harga perangkat dari Rp7,9 jutaan ($449) menjadi Rp8,8 jutaan ($499).
Kenaikan harga yang berlaku sejak Mei lalu itu langsung memukul antusiasme pasar dan membuat pengapalan konsol generasi terbaru merosot dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski lonjakan harga tidak sejelas platform pesaing, dampaknya tetap terasa berat bagi anggaran belanja pemain.
Kelangkaan rantai pasok komponen memori serta dinamika ekonomi global menjadi faktor utama di balik keputusan penyesuaian harga tersebut.
Penjualan Hardware Terjun Bebas
Data keuangan resmi periode April hingga September 2026 mencatat Nintendo Switch 2 hanya terjual 6,49 juta unit.
Angka itu berbanding terbalik dengan capaian periode sama tahun lalu yang mencapai 10,36 juta unit, atau turun drastis 37,4 persen.
Penurunan ini mengindikasikan daya beli pemain mulai menahan diri setelah penyesuaian harga ritel.
Kondisi lesu juga melanda generasi pertama Nintendo Switch yang penjualannya turun 32,7 persen dengan hanya 1,27 juta unit.
Melemahnya permintaan pasar merupakan konsekuensi dari keterbatasan anggaran konsumen yang tergerus kondisi ekonomi serta fluktuasi biaya produksi perangkat keras modern.
Penyebab utama penyesuaian harga adalah fenomena krisis RAM DRAM yang tengah melanda manufaktur elektronik.
Pasokan komponen memori yang mengetat mendadak mendongkrak biaya produksi perangkat elektronik secara menyeluruh.
Kondisi ini memaksa produsen mengalihkan sebagian beban biaya operasional kepada konsumen akhir.
Presiden Nintendo Shuntaro Furukawa memberikan penjelasan resmi menanggapi kekhawatiran gamer dan investor.
Ia menegaskan pihaknya masih memiliki pasokan komponen memori yang mencukupi untuk menjaga kontinuitas produksi Nintendo Switch 2.
Furukawa juga menyatakan tidak ada rencana kenaikan harga susulan dalam waktu dekat.
Kendati demikian, jaminan tersebut diprediksi hanya bertahan dalam jangka pendek hingga menengah.
Apabila krisis RAM DRAM terus berlanjut dan kian memburuk dalam beberapa kuartal mendatang, skenario penyesuaian harga kedua bagi konsol portabel ini bisa saja menjadi keputusan yang tak terhindarkan.
