Zendhy menyebut situasi tersebut membuat mereka kebingungan karena tidak ada kepastian mengenai status pesanan.

Masuk ke Area Dapur

Setelah menunggu hampir dua jam, Zendhy mengaku akhirnya masuk ke area dapur restoran untuk memastikan apakah pesanan mereka sudah diproses.

Ia menyebut tidak ada pihak restoran yang melarang dirinya masuk ke area tersebut.

Dari situ ia mengklaim baru mengetahui bahwa pesanan mereka ternyata belum dibuat dan baru akan diproses pada saat itu.

Kondisi itu membuat rombongan merasa kecewa karena sejak awal tidak mendapatkan kejelasan mengenai pesanan yang telah lama ditunggu.

Pesanan Disebut Tidak Lengkap


Zendhy juga menjelaskan bahwa setelah makanan akhirnya disajikan, beberapa menu diberikan secara terburu-buru dan tidak lengkap.

Dalam kondisi emosi, rombongan memutuskan meninggalkan restoran.

Ketika mereka sudah berada di mobil, seorang pelayan datang membawa mesin EDC untuk meminta pembayaran.

Zendhy menyatakan tetap bersedia membayar, tetapi saat itu ia ingin terlebih dahulu bertemu dengan penanggung jawab restoran untuk menjelaskan situasi yang terjadi.

“Kami berharap dapat bertemu dengan penanggung jawab restoran untuk menjelaskan situasi yang terjadi pada malam itu,” katanya.

Klaim Sudah Melakukan Pembayaran

Zendhy mengungkapkan bahwa ia sempat berencana kembali ke restoran pada 21 September 2025 untuk meminta maaf secara langsung sekaligus menyelesaikan pembayaran.

Namun rencana tersebut tidak terlaksana karena pemilik restoran sedang berada di luar kota.

Pembayaran kemudian dilakukan melalui transfer sebesar Rp550.000 pada 27 September 2025.

Pada 20 Oktober 2025, ia kembali mentransfer jumlah yang sama setelah pembayaran sebelumnya disebut belum diterima oleh pihak restoran.