Harga minyak dunia terus menanjak setelah peluang tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali meredup.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pembahasan kesepakatan damai dengan Iran kini berada dalam kondisi kritis setelah Teheran menolak proposal yang diajukan Washington.
Pernyataan itu disampaikan Trump menyusul respons Iran yang berisi sejumlah tuntutan baru untuk mengakhiri konflik.
Iran meminta penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, pengakuan penuh atas kedaulatan Selat Hormuz, pencabutan blokade laut Amerika Serikat, hingga kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Trump menanggapi tuntutan tersebut dengan nada keras. Ia menyebut dokumen balasan dari Iran sebagai sesuatu yang mengecewakan dan tidak layak dipertimbangkan.
“Saya menyebutnya paling lemah saat ini, setelah membaca tumpukan sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak selesai membacanya,” ujar Trump.
Kebuntuan diplomasi itu langsung memicu lonjakan harga energi global. Minyak mentah Brent dilaporkan naik mendekati US$ 108 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan dunia.
Selat Hormuz menjadi titik perhatian utama karena jalur tersebut menampung sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair global.
Situasi di kawasan semakin tegang setelah blokade dan aktivitas militer membuat lalu lintas pelayaran di jalur itu nyaris lumpuh.
Pentagon menyebut biaya perang telah mencapai US$ 29 miliar atau sekitar Rp 460 triliun. Amerika Serikat juga memperkuat pengawasan laut dengan menempatkan kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab.
Langkah itu dilakukan untuk mencegat kapal komersial yang menuju Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik.
Dari pihak Iran, Garda Revolusi dilaporkan mulai menggelar latihan militer berskala besar. Juru bicara komisi keamanan nasional Iran Ebrahim Rezaei bahkan menyatakan negaranya siap meningkatkan pengayaan uranium hingga 90% apabila kembali diserang.