Rangkaian serangan udara di Timur Tengah memasuki hari keenam ketika Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis dini hari. Alarm peringatan serangan udara berbunyi di Tel Aviv dan Yerusalem setelah sempat terjadi jeda, diikuti suara ledakan saat sistem pertahanan udara berupaya mencegat rudal yang datang.

Belum ada laporan awal mengenai korban jiwa dari serangan terbaru tersebut. Di sisi lain, Israel mulai melonggarkan sebagian pembatasan bagi publik karena intensitas rudal yang ditembakkan dari Iran dinilai menurun.

Seorang juru bicara militer Israel menyatakan upaya menghantam persediaan rudal Iran serta lokasi peluncuran dinilai berdampak pada berkurangnya tembakan ke wilayah Israel. Namun, laporan ledakan kembali muncul dari Teheran, ibu kota Iran, pada hari yang sama.

Serangan meluas ke Lebanon dan warga mengungsi

Situasi di Lebanon juga memburuk setelah Israel kembali menggempur wilayah sekitar Beirut. Militer Israel menargetkan kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah, setelah lebih dulu mengeluarkan peringatan kepada warga setempat.

Media Lebanon melaporkan dua serangan Israel terjadi di sekitar ibu kota. Kementerian kesehatan Lebanon, sebagaimana dikutip media setempat, menyebut tiga orang tewas dan enam lainnya terluka akibat serangan di jalan menuju Bandara Internasional Beirut-Rafik Hariri.


Pejabat Lebanon mengatakan lebih dari 80.000 orang terdampak pengungsian akibat putaran baru pertempuran antara Israel dan Hezbollah. Di saat yang sama, laporan menyebut serangan udara Israel di Lebanon kembali memakan korban.

Senat AS tolak pembatasan kewenangan perang

Di Washington, Senat Amerika Serikat menolak sebuah langkah yang bertujuan membatasi kemampuan Presiden Donald Trump untuk memerintahkan aksi militer lanjutan terhadap Iran. Usulan itu mengharuskan penarikan pasukan AS dari konflik jika operasi tidak mendapat persetujuan Kongres.