Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, memantik perbincangan luas setelah ia mengusulkan perubahan posisi gerbong khusus perempuan di rangkaian kereta.

Usulan itu muncul tak lama setelah kecelakaan kereta di Bekasi pada 27 April 2026 yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek.

Insiden Jadi Pemicu Usulan

Peristiwa tersebut menyebabkan korban dari kalangan penumpang perempuan yang berada di gerbong khusus. Tercatat 15 orang meninggal dunia, sementara 82 lainnya mengalami luka.

Kondisi ini mendorong pembahasan ulang terkait tata letak gerbong wanita dalam rangkaian kereta.

Dalam keterangannya, Arifah menyebut penempatan gerbong perempuan di bagian depan atau belakang selama ini berkaitan dengan pengaturan penumpang.


“Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan opsi lain berupa penempatan penumpang laki-laki di bagian ujung rangkaian.

Tanggapan Publik Terbelah

Gagasan tersebut langsung ramai dibahas di media sosial. Sejumlah pengguna mempertanyakan aspek keadilan dari skema tersebut.

Kritik terutama mengarah pada potensi pemindahan risiko ke penumpang laki-laki. Namun di sisi lain, ada pandangan yang melihat langkah itu sebagai upaya meningkatkan perlindungan bagi perempuan.

Profil Singkat Arifah Fauzi

Arifah Fauzi lahir di Bangkalan, Madura, Jawa Timur pada 28 Juli 1969. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Jakarta, lalu melanjutkan studi di UIN Sunan Kalijaga dan lulus pada 1994.

Pendidikan pascasarjana diselesaikan di Universitas Indonesia pada 2002 melalui program beasiswa.

Karier organisasinya tumbuh dari lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia pernah memimpin IPPNU DIY dan kemudian menduduki posisi penting di Fatayat NU serta Muslimat NU.

Saat ini, ia menjabat Ketua Umum PP Muslimat NU periode 2025–2030.

Perjalanan ke Pemerintahan

Dalam politik nasional, Arifah terlibat dalam tim kampanye pada Pemilu 2024 yang mendukung Prabowo Subianto.

Ia kemudian ditunjuk sebagai Menteri PPPA setelah pertemuan dengan presiden terpilih pada Oktober 2024.

Kehidupan dan Aktivitas Sosial

Di luar jabatan publik, Arifah Fauzi dikenal aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Ia menikah dengan Ngatawi Al-Zastrow.

Selain itu, ia juga pernah menjabat posisi direktur di sejumlah perusahaan serta terlibat dalam program sosial berbasis komunitas.