Kehangatan yang Hilang
Di tengah ucapan belasungkawa dari para pemimpin Muslim dan politisi di seluruh negeri, warga komunitas yang erat mengaku sulit membayangkan Islamic Center tanpa ketiga pria itu.
Mereka dianggap sebagai figur sentral yang membuat masjid terasa seperti rumah.
Abdullah menyapa semua pengunjung masjid dengan senyuman dan salam "as-salamu alaikum", kata Mahmood Ahmadi, jamaah tetap.
Teman lainnya, Shaykh Uthman Ibn Farooq, mengatakan Abdullah hampir setiap hari berada di masjid dan sangat berbakti kepada istri serta delapan anaknya.
Putrinya, Hawaa Abdullah, yang dikelilingi anggota keluarga dalam konferensi pers Selasa, mengatakan ayahnya adalah sosok penyayang dan suportif, "sahabat terbaik" dan panutan.
Ia sangat serius menjalankan tugas melindungi komunitas sehingga kadang tidak makan selama shift.
"Dia ingin menyimpan makanannya sampai setelah meninggalkan pekerjaan karena dia takut jika dia istirahat, sesuatu yang buruk akan terjadi," kata Hawaa.
Abdullah dibesarkan sebagai Kristen dan dalam video YouTube 2019 menceritakan perjalanannya menemukan Islam setelah lulus SMA.
Farooq mengatakan ia bertemu Abdullah tak lama setelah ia menjadi Muslim pada 1990-an. Baru-baru ini mereka pergi berziarah ke Mekah bersama.
>>> Google Umumkan Berbagai Kemajuan AI, Termasuk Asisten Pribadi Gemini Spark
Khalid Alexander masuk Islam sekitar waktu yang sama dengan Abdullah sekitar 30 tahun lalu.
Keduanya tinggal di masjid San Diego yang berbeda saat itu, saling membantu membayangkan kehidupan yang bermakna dan stabil.
Alexander mengatakan Abdullah bangga bisa merawat komunitasnya sebagai satpam.
"Itu pekerjaan impiannya," kata Alexander.
Alexander dan Abdullah kadang membahas kekhawatiran tentang sentimen "anti-Muslim, anti-Kulit Hitam, anti-imigran" di televisi.
Sentimen itu sering datang langsung ke masjid San Diego melalui surat kebencian, yang mendorong perekrutan satpam seperti Abdullah dan pemasangan kamera, kata Hassane.