Alexander mengatakan Abdullah "sangat sadar akan bahaya pekerjaannya — dan itulah mengapa dia memilih melakukannya."
Figur Ayah di Pusat Kegiatan
Kaziha, yang dikenal sebagai Abu Ezz, adalah bagian integral dari masjid sejak dibangun pada 1980-an, dan melayani komunitas "tanpa henti" sejak saat itu, kata Hassane.
Hassane dan yang lain mengenal Kaziha sebagai orang pertama yang dihubungi jika ada masalah.
"Dia adalah tukang serba bisa. Dia adalah koki.
Dia adalah pengurus. Dia adalah penjaga toko.
Dia adalah segalanya," ujarnya.
Alexander telah mengenal Kaziha sejak sebelum Alexander masuk Islam, dan masih ingat pertama kali pada pertengahan 1990-an saat ia disambut di rumah Kaziha.
Alexander mengatakan sulit membayangkan pusat kegiatan itu tanpa dirinya.
"Dia seperti, semacam ayah dari tempat itu," kata Alexander.
Berlari ke Arah Tembakan
Awad tinggal di seberang Islamic Center dan menghadiri salat "setiap hari", kata Hassane. Saat mendengar tembakan, Awad berlari ke arah gedung tempat istrinya menjadi guru di sekolah.
Tindakan ketiga pria itu, kata Alexander, mewujudkan kebajikan komunitas Islam di San Diego.
"Mereka benar-benar mewakili segala sesuatu yang indah tentang Islam dan segala sesuatu yang indah tentang Muslim," kata Alexander.
Masjid tersebut merupakan masjid terbesar di San Diego dan menarik ribuan orang dari seluruh wilayah selama hari raya besar.
Selain salat lima waktu, masjid juga menyediakan makan malam dan sarapan selama Ramadan, menyelenggarakan sekolah untuk studi bahasa Arab dan Islam, serta memiliki toko di dalamnya.
Ketiga pria itu menyelamatkan nyawa.
>>> Wisudawan Mencemooh Pidato soal AI di Wisuda: Tanda Kecemasan Karier
Tanpa mengalihkan perhatian dan menunda tindakan kedua pelaku, tanpa keraguan akan ada lebih banyak korban jiwa, kata Wahl.