>>> Shia LaBeouf Akui Bersalah Mabuk dan Bikin Onar
"Saya pikir penonton akan dapat membayangkan sendiri kisah mereka secara alami," jelas Yeon Sang-ho.
Colony menceritakan sekelompok penyintas, termasuk seorang profesor bioteknologi bernama Se-jeong, yang terjebak dalam gedung yang diblokade total akibat wabah zombie yang tiba-tiba merebak.
Berbeda dari proyek bertema serupa, kawanan zombie di film ini berevolusi menjadi predator yang lebih cerdas, mampu berkomunikasi, dan berpikir secara kolektif melalui sebuah jaringan terkoneksi.
Jika Train to Busan menitikberatkan pada drama kemanusiaan antara hubungan ayah dan anak, Colony justru dibangun dengan elemen pelarian ekstrem menyerupai permainan escape room.
Konsep itu menciptakan kontras tajam di mana pihak zombie terus berevolusi, sementara kelompok manusia mengandalkan komunikasi untuk bertahan hidup.
Bagi Yeon Sang-ho, yang sebelumnya sukses dengan kisah zombie dalam Train to Busan, prekuel animasi Seoul Station (2016), serta Peninsula (2020), ruang inovasi untuk tema ini masih terbuka lebar.
"Saya seperti Mun Ik-jeom-nya film zombie Korea," kelakarnya, merujuk pada sosok cendekiawan era Dinasti Goryeo yang pertama kali membawa benih kapas ke Korea.
Meski film ini berakhir dengan konklusi yang memicu tanda tanya penonton akan adanya sekuel, Yeon Sang-ho mengaku telah menyiapkan strategi ekspansi multidimensi di luar layar lebar.
Ia menyiapkan buku pendamping yang mengupas tuntas latar dunia dan karakter Colony yang saat ini sedang digarap, bersamaan dengan proyek adaptasi gim.
"Ada sesuatu yang sudah lama saya impikan. Konten dalam film tidak lagi terbatas pada film saja.
Di Jepang, misalnya, komik diadaptasi menjadi serial animasi. [Cerita-cerita tersebut] diperluas dengan cara yang dapat dinikmati melalui berbagai media," cetusnya.
>>> Xiaomi FX Mini LED TV Resmi Meluncur, Hadir dengan Layar 4K, Fire TV dan Mode Game 120Hz
Film Colony tayang 3 Juni di bioskop Indonesia.