unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Konflik Selat Hormuz Bayangi Rupiah, S&P dan SUN Jadi Penopang
News

Konflik Selat Hormuz Bayangi Rupiah, S&P dan SUN Jadi Penopang

Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Menteri Keuangan Soroti Pentingnya Uang Primer untuk Dorong Ekonomi
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (16/7/2026).

Kontrak rupiah dibuka stagnan di Rp18.102 per dolar AS.

Pada pukul 06:50 WIB, rupiah melemah 0,12% ke Rp18.124/US$, namun pada 07:29 WIB berbalik menguat terbatas 0,01% menjadi Rp18.100/US$.

Volatilitas rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran.

Langkah ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat ketegangan di Timur Tengah.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$80 per barel, setelah melonjak 11%.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik 0,57% ke US$85,21 per barel.

Kenaikan harga minyak terus berlanjut karena AS melanjutkan serangan terhadap Iran untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Obligasi dan Dolar AS

Di pasar obligasi, US Treasury menguat setelah data inflasi produsen AS pada Juni lebih rendah dari ekspektasi.

Hal ini membuat pelaku pasar mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini.

Saat ini, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 bps diperkirakan sekitar 10%.

Pergerakan dolar AS pun terbatas, dengan indeks dolar berada di 100,45 setelah menyusut 0,43% pada penutupan sebelumnya.

Di tengah ketidakpastian global, Surat Utang Negara (SUN) dan imbal hasil S&P diperkirakan tetap menjadi penopang bagi rupiah.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru