Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penguatan untuk hari ketiga berturut-turut.
Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik di Selat Hormuz, di mana Amerika Serikat terus melancarkan serangan ke wilayah Iran.
>>> Petugas DLHK Angkut Gunungan Sampah di Kali Irigasi Krukut Depok
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$80 per barel. Sebelumnya, harga WTI melonjak lebih dari 11% dalam tiga sesi perdagangan.
Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di atas level US$85 per barel.
Militer AS kembali meluncurkan serangan udara baru ke Iran pada Rabu (15/7) dan mengklaim telah melumpuhkan sebuah kapal tanker tanpa muatan yang menuju pelabuhan di negara anggota OPEC+ tersebut.
Kenaikan harga minyak terjadi karena kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah kembali meningkat. Lonjakan ini menghapus sebagian dari penurunan sekitar 30% yang terjadi sepanjang kuartal kedua.
>>> Truk Bermuatan Kayu Terbalik di Bojongsari, Lalu Lintas Parung-Ciputat Macet
Di sisi lain, serangan hampir setiap hari yang dilakukan Ukraina terhadap fasilitas produksi bahan bakar dan kapal tanker Rusia juga mengancam pasokan energi global.
Hal ini menambah tekanan pada pasar minyak dunia.
"Jadi, kini kita bukan hanya kembali kehilangan akses melalui Selat Hormuz, tetapi juga kehilangan pasokan minyak mentah dan kilang di Rusia," ujar Jeff Currie, penasihat senior di Carlyle Group Inc., dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
>>> Trump: AS Akan Libatkan Perusahaan Korea untuk Bangun Kapal Perang
"Situasi di sektor energi, menurut saya, sangat mengkhawatirkan."
