Iran menargetkan Bahrain dan Kuwait pada Kamis dini hari setelah Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade laut dan mengintensifkan kampanye serangan udara sebagai balasan atas serangan Tehran terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Serangan AS menghantam barak militer Iran, menewaskan setidaknya tujuh tentara dan melukai ratusan orang di seluruh negeri, demikian menurut pejabat Iran.
>>> Asap Kebakaran Hutan Kanada Selimuti Toronto, Ancaman ke AS
Belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban dari serangan Iran.
Pertukaran serangan yang berlangsung beberapa hari antara AS dan Iran di seluruh Timur Tengah, serta ancaman baru terhadap jalur air yang penting bagi pasokan energi global, telah merobek kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik.
Wilayah ini berpotensi kembali ke perang skala penuh.
Blokade dan Serangan Balasan
AS pertama kali memberlakukan blokade pada April dan mencabutnya bulan lalu setelah menandatangani kesepakatan sementara yang menghentikan pertempuran dan menetapkan periode 60 hari untuk negosiasi mengenai isu-isu seperti program nuklir Iran.
Perundingan tersebut kini menemui jalan buntu karena pertempuran di Selat Hormuz semakin intensif.
Ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, Tehran secara efektif menutup jalur air tersebut untuk lalu lintas pelayaran.
Langkah itu mendorong harga minyak, pupuk, dan banyak barang lainnya melonjak jauh melampaui kawasan dan memberi Iran pengaruh besar dalam negosiasi.
Kenaikan harga tersebut menjadi tantangan khusus bagi Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik yang berharap mempertahankan kendali Kongres dalam pemilu November.
Sekitar 24 jam setelah blokade diberlakukan, militer AS melepaskan tembakan dan melumpuhkan sebuah kapal dagang.
Ketua parlemen dan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan Iran siap menghadapi konfrontasi militer yang lebih besar jika AS tidak memenuhi ketentuan kesepakatan sementara.

