unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Transformasi Manajemen Risiko Bawa BTN Raih Dua Penghargaan ASEAN
News

Transformasi Manajemen Risiko Bawa BTN Raih Dua Penghargaan ASEAN

BTN meraih dua penghargaan ASEAN Risk Awards 2026
Transformasi Manajemen Risiko Bawa BTN Raih Dua Penghargaan ASEAN
A A Ukuran Teks16px

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kembali menorehkan prestasi di tingkat regional. Perseroan meraih dua penghargaan sekaligus pada ajang ASEAN Risk Awards 2026.

BTN berhasil membawa pulang ASEAN Risk Champion Award (Category 2) dan Risk Culture Award. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan transformasi manajemen risiko yang dijalankan secara konsisten.

Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa penguatan tata kelola dan manajemen risiko BTN telah memenuhi standar praktik terbaik di kawasan ASEAN.

Capaian ini sekaligus mempertegas posisi BTN sebagai institusi keuangan yang mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip kehati-hatian.

ASEAN Risk Awards merupakan ajang penghargaan bergengsi bagi lembaga keuangan di ASEAN.

Penghargaan ini mengapresiasi keberhasilan dalam mengembangkan sistem manajemen risiko, tata kelola perusahaan, budaya risiko, inovasi, hingga ketahanan organisasi.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan penghargaan tersebut menjadi validasi bahwa transformasi perusahaan dibangun di atas fondasi tata kelola yang kuat.

"Penghargaan ini bukan sekadar apresiasi atas fungsi manajemen risiko, tetapi merupakan pengakuan bahwa transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan risk management yang kuat," kata Setiyo.

Menurut Setiyo, tantangan industri keuangan saat ini semakin kompleks.

Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi pasar keuangan, perkembangan teknologi digital, hingga isu perubahan iklim menuntut sistem pengelolaan risiko yang adaptif.

Transformasi Risiko Dorong Kinerja Perseroan

Salah satu langkah strategis BTN adalah modernisasi proses bisnis kredit melalui Loan Factory.

Sistem tersebut memungkinkan proses penyaluran kredit lebih terukur, efisien, dan didukung pengelolaan risiko yang lebih baik.

BTN juga memperkuat implementasi enterprise risk management yang terintegrasi di seluruh lini organisasi. Penguatan tersebut dilengkapi digitalisasi pemantauan risiko secara end to end.

Perseroan memanfaatkan data analytics dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Pendekatan berbasis data memperkuat pengelolaan risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hingga teknologi informasi.

BTN turut mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kerangka manajemen risiko. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.

Penguatan sistem dibarengi dengan pembangunan budaya risiko di seluruh jenjang organisasi. BTN terus meningkatkan kompetensi SDM, memperkuat governance, serta menginternalisasi prinsip kehati-hatian.

"Risk culture merupakan fondasi penting bagi organisasi yang ingin tumbuh secara berkelanjutan.

Ketika seluruh insan perusahaan memiliki kesadaran risiko yang kuat, maka organisasi akan lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan," ujar Setiyo.

Implementasi transformasi tersebut memberikan dampak nyata terhadap kinerja BTN sepanjang Semester I 2026. Perseroan mencatatkan pertumbuhan bisnis yang sehat dengan kualitas aset yang semakin baik.

BTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau meningkat 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,70 triliun.

Penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 13,2 persen menjadi Rp418,11 triliun. Total aset perusahaan meningkat 8,5 persen menjadi Rp545,16 triliun.

Rasio Non Performing Loan (NPL) berhasil ditekan menjadi 2,99 persen dari sebelumnya 3,30 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp398,73 triliun atau meningkat 6,5 persen.

Transformasi manajemen risiko juga menjadi fondasi penting dalam mendukung arah pengembangan BTN menuju bank beyond mortgage di bawah arahan Danantara Indonesia.

Setiyo menambahkan, BTN akan terus memperkuat kapabilitas manajemen risiko melalui pemanfaatan teknologi digital, data analytics, serta artificial intelligence.

"Ke depan, kami akan terus memperkuat kapabilitas manajemen risiko yang semakin forward-looking melalui pemanfaatan data, digital technology, dan artificial intelligence, serta terus memperkuat budaya risiko di seluruh organisasi," imbuhnya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru