unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Tembok Abu-abu Piala Dunia: Turnamen Tinggalkan Warga Miskin
News

Tembok Abu-abu Piala Dunia: Turnamen Tinggalkan Warga Miskin

Tembok abu-abu yang dibangun pemerintah Nuevo León di lingkungan Guadalupe Victoria, Monterrey, Meksiko
Tembok Abu-abu Piala Dunia: Turnamen Tinggalkan Warga Miskin
A A Ukuran Teks16px

Piala Dunia 2026 resmi berakhir pada Senin setelah Spanyol mengalahkan Argentina di final.

Turnamen selama 39 hari yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini mencatat pendapatan rekor.

FIFA meraup $430 juta dari hak siar saja, naik dari $340 juta pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Total pendapatan diperkirakan mencapai $13 miliar.

Dana tersebut membayar $727 juta kepada tim peserta dan menghadirkan pertunjukan paruh waktu pertama yang dibintangi BTS, Madonna, Shakira, dan Justin Bieber.

Tembok Abu-abu di Monterrey

Di balik kemegahan itu, tuan rumah Meksiko justru mendorong warga rentan keluar dari pandangan.

Di Monterrey, pemerintah negara bagian Nuevo León membangun tembok abu-abu sepanjang beberapa kilometer di lingkungan Guadalupe Victoria.

Tembok itu membentang di sepanjang rute utama dari bandara menuju stadion Piala Dunia.

Rumah bata dengan atap seng berkarat pun tersembunyi dari mata pengunjung, sementara pekerja harus memutar jauh setiap hari.

Di pusat Monterrey, pihak berwenang juga berusaha menyembunyikan dampak krisis keamanan.

Di Plaza de los Desaparecidos (Plaza Orang Hilang), tempat keluarga menempelkan selebaran orang yang hilang akibat kekerasan narkoba, pemerintah tiba-tiba memasang pot tanaman setinggi 1 meter untuk menutupi selebaran tersebut.

Langkah itu menghancurkan harapan keluarga yang mengira sorotan global akan menarik perhatian pada sekitar 110.000 orang hilang di Meksiko.

Pemerintah Nuevo León mengatakan proyek itu bertujuan memulihkan keamanan dan martabat ruang publik tanpa menghilangkan simbol peringatan.

Refleksi dari Seoul

Bagi wartawan dari Seoul, penyembunyian kemiskinan di Monterrey terasa seperti bayangan masa lalu Korea.

Situasi itu persis seperti film dokumenter 'Sanggye-Dong Olympic' karya Kim Dong-won tahun 1988, yang mengisahkan penggusuran paksa warga miskin di Sanggye-dong menjelang Olimpiade Seoul.

Praktik serupa terus berlanjut.

Menjelang Asian Games Incheon 2014, pedagang kaki lima di Pungmul Street, Incheon barat, menerima surat penggusuran mendadak untuk proyek penghijauan kota.

Hingga kini, banyak warga Korea masih kehilangan hak perumahan di bawah proyek pembaruan kota dan 'New Town'.

Proses ini telah berulang kali menimbulkan tragedi, termasuk Bencana Yongsan dan kebakaran berulang di Kampung Guryong.

Sebulan meliput Piala Dunia di Amerika Utara menjadi pengingat akan luka sosial bersama.

Baik di Monterrey maupun Seoul, perayaan terbesar bangsa sering kali menuntut pengorbanan yang sama: mendorong yang paling rentan keluar dari panggung agar pesta terus berlangsung tanpa gangguan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru