Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara lain agar tidak ikut serta dalam apa yang disebutnya sebagai "perang ekonomi" yang dilancarkan Amerika Serikat.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai, menyatakan bahwa negara mana pun yang berpartisipasi dalam sanksi ekonomi terhadap Iran akan dianggap sebagai musuh.
Pernyataan itu disampaikan Rezai dalam siaran televisi pemerintah pada Sabtu, menanggapi dorongan Washington agar sekutunya bergabung dalam kampanye isolasi ekonomi Iran.
Rezai menegaskan bahwa jika negara-negara tersebut tidak menjauhkan diri dari AS, Iran akan merugikan kepentingan mereka.
Ia juga mengklaim bahwa Iran belum menyerang kepentingan ekonomi AS, tetapi jika sanksi dijatuhkan, Iran akan menyerang perusahaan minyak dan ekonomi AS di sekitar Iran dan tempat lain.
Ancaman tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, yang telah berlangsung hampir enam bulan.
>>> Profil Chika Yenalovy, Istri Kasespri Prabowo yang Baru Dinikahi Rizky Irmansyah
AS telah meminta berbagai negara, termasuk Tiongkok, untuk bergabung dalam upaya isolasi ekonomi Iran.
Namun, Tiongkok mengkritik inisiatif tersebut dan menilai sanksi tidak akan menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, Uni Emirat Arab, salah satu mitra dagang utama Iran, mengumumkan penangguhan semua transaksi perdagangan dan keuangan dengan Teheran hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Ancaman Lebih Lanjut
Rezai juga menegaskan bahwa Iran memiliki lebih banyak kartu untuk dimainkan dalam perang ini, mengklaim bahwa "kami belum menyerang kepentingan ekonomi Amerika."
>>> 5 Pelajar Bersajam Diamankan Polda Metro Jaya di Ciputat Timur, Gerobak Pedagang Rusak
Ia mengancam bahwa jika Trump mengambil tindakan, "konfrontasi kami akan seperti gempa bumi."