Kabar duka menyelimuti dunia kuliner dan peternakan lokal Kota Kembang. Dago Dairy, sebuah peternakan sapi dan pemasok produk dairy (susu dan olahannya) yang telah lama menjadi ikon wisata dan oleh-oleh khas Bandung, akhirnya memutuskan untuk menutup operasional usahanya secara permanen. Keputusan berat ini diumumkan langsung oleh sang pemilik, Mark Hallet, setelah berjuang keras selama dua tahun terakhir menghadapi krisis tenaga kerja yang tak kunjung menemukan titik terang.
Kabar penutupan ini sontak menjadi viral di berbagai platform media sosial, memicu gelombang nostalgia dan duka dari ribuan pelanggan setia yang telah lama mempercayakan kebutuhan produk susu segar mereka kepada Dago Dairy.
Detik-detik Pengumuman yang Menggetarkan Hati Pengunjung Setia
Pengumuman resmi tersebut disampaikan melalui sebuah video emosional yang diunggah di akun Instagram resmi @dago_dairy. Video tersebut kemudian diunggah ulang oleh akun curator kuliner populer di Threads, @foodnotestories, yang semakin mempercepat penyebaran informasi ini ke khalayak luas.
Dalam video berdurasi beberapa menit tersebut, Mark Hallet tampak menyampaikan keputusannya dengan nada berat namun penuh ketegaran. Ia mengungkapkan bahwa peternakan yang telah ia bangun dengan cinta dan dedikasi tinggi selama bertahun-tahun di kawasan Dago, Bandung, kini harus mengakhiri perjalanannya. Bukan karena kurangnya minat pasar atau kualitas produk yang menurun, melainkan karena keterdesakan faktor sumber daya manusia yang krusial.
Dua Tahun Bergulat dengan Krisis Tenaga Kerja, Pemuda Enggan Melirik Dunia Peternakan
Akar permasalahan yang memaksa Dago Dairy gulung tikar ternyata sangat klasik namun mematikan: kekurangan tenaga kerja. Mark Hallet mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalami kesulitan mencari karyawan yang berkompeten dan bersedia bekerja di lingkungan peternakan selama hampir dua tahun terakhir.
"Hampir dua tahun kami kekurangan karyawan. Anak muda saat ini sepertinya tidak lagi berminat untuk bekerja di sektor peternakan," ujar Mark Hallet dengan nada prihatin dalam video pengumuman tersebut.
Pernyataan ini menyoroti sebuah fenomena sosial yang lebih luas di Indonesia, di mana sektor pertanian dan peternakan semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Minimnya regenerasi peternak, persepsi bahwa kerja di peternakan adalah pekerjaan kotor dan berat, serta iming-iming pekerjaan perkantoran di kota besar, menjadi faktor pendorong utama hilangnya minat tenaga kerja lokal terhadap profesi mulia ini.