Bulan Rabiul Awal selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, tak terkeuali di Indonesia. Memasuki September 2026 ini, gema peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali bergema di berbagai masjid dan musala. Namun, di balik tradisi perayaan yang meriah, tersimpan sebuah refleksi mendalam tentang esensi kepemimpinan yang sesungguhnya.
Ustadz Achmad Hasanuddin HR, Sekretaris Komisi Fatwa Kota Tangerang, dalam khutbah Jumat (4/9/2026) kemarin, menyampaikan sebuah pesan kritis dan inspiratif. Menurutnya, Maulid Nabi sejatinya bukan sekadar rutinitas tahunan atau perayaan seremonial belaka. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk "membongkar" kembali lembaran sejarah kehidupan Rasulullah SAW untuk dijadikan cermin bagi para pemimpin di era modern.
"Memperingati Maulid Nabi bukan hanya sebatas menjaga tradisi baik, melainkan agar kita bisa membuka kembali sejarah kehidupan beliau yang mulia, khususnya dalam aspek kepemimpinan, agar kita bisa memperoleh limpahan rahmat Allah SWT," ujar Ustadz Achmad di hadapan jamaah.
Lantas, bagaimana relevansi keteladanan Nabi Muhammad SAW yang hidup lebih dari 14 abad silam dengan krisis kepercayaan terhadap pemimpin di era kontemporer saat ini?
Makna Syukur dan Sang Pembawa Rahmat
Sebelum melangkah pada konsep kepemimpinan, Ustadz Achmad mengingatkan umat Islam tentang pentingnya rasa syukur. Mengutip sebuah hadits qudsi riwayat Al-Baihaqi dari Sayyidah Aisyah RA, Allah SWT berfirman: "Wahai hamba-Ku! Kamu tidak akan bisa bersyukur kepada-Ku selagi kamu tidak berterima kasih atas orang yang Aku telah menjalankan nikmat melalui kedua tangannya."
Nabi Muhammad SAW adalah perantara terbesar nikmat iman dan Islam bagi umat manusia. Beliau diutus bukan untuk membawa bencana, melainkan sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam) sebagaimana tertuang dalam QS Al-Anbiya: 107. Maka, mencintai dan meneladani beliau adalah wujud tertinggi dari rasa syukur seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Piagam Madinah: Bukti Kecerdasan Politik dan Sosial
Banyak orang lupa bahwa Rasulullah SAW bukan hanya seorang Nabi yang menyampaikan wahyu. Ketika berhijrah ke Madinah, beliau bertransformasi menjadi seorang head of state (kepala negara) dan pemimpin masyarakat yang majemuk.
Lahirnya Piagam Madinah adalah bukti historis bagaimana Rasulullah mampu menyatukan berbagai suku, golongan, dan bahkan agama yang berbeda dalam satu payung keamanan dan keadilan. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat concern terhadap tata kelola pemerintahan dan kepemimpinan yang inklusif.
Lalu, apa resep sukses Rasulullah dalam memimpin? Ustadz Achmad merincinya ke dalam empat sifat wajib Rasul yang sangat relevan untuk diaplikasikan oleh para pejabat publik, pemimpin organisasi, hingga kepala keluarga saat ini.
1. Shiddiq: Integritas adalah Mata Uang Kepemimpinan
Sifat pertama adalah Shiddiq, yang bermakna jujur dan benar. Di tengah maralnya kasus korupsi dan janji-janji politik yang ingkar, sifat shiddiq menjadi barang langka.
Seorang pemimpin yang shiddiq tidak akan manipulasi data, tidak akan korupsi, dan tidak akan ingkar janji. Kejujuran ini adalah fondasi utama. Tanpa integritas, kepercayaan rakyat atau anggota timnya akan hancur. Kepemimpinan yang jujur akan membangun ikatan batin dan kepercayaan yang mendalam antara pemimpin dan yang dipimpin.
2. Amanah: Anti-Korupsi dan Penjaga Hak Rakyat
Sifat kedua adalah Amanah atau dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Kekuasaan dalam Islam bukanlah privilese atau alat untuk memperkaya diri, melainkan sebuah beban moral yang akan dihisab di akhirat.
Pemimpin yang amanah akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap kebijakan yang ia buat. Ia akan menghormati dan melindungi hak-hak rakyatnya, terutama kaum marginal. Rakyat akan segan dan mengikuti pemimpin yang terbukti tidak menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
3. Fathanah: Cerdas, Visioner, dan Berpikir Kritis
Sifat ketiga adalah Fathanah, yang berarti cerdas dan intelek. Di era disrupsi teknologi dan kompleksitas masalah global saat ini, pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan niat baik tanpa dibarengi kecerdasan.
Pemimpin yang fathanah mampu berpikir jauh ke depan (visioner), memahami konteks waktu dan tempat, serta mengambil keputusan berbasis data dan kebijaksanaan. Ia mampu membaca peta masalah sosial-ekonomi dan menemukan solusi yang tepat sasaran demi kemashlahatan umat.
4. Tabligh: Komunikatif, Transparan, dan Menyampaikan Kebenaran
Sifat keempat adalah Tabligh, yaitu menyampaikan amanah dengan jelas. Dalam konteks kepemimpinan modern, ini berkaitan erat dengan kemampuan komunikasi dan transparansi.
Seorang pemimpin harus mampu menyampaikan visi, misi, dan kebijakan kepada rakyatnya dengan efektif, tanpa ada yang disembunyikan. Di era informasi ini, pemimpin yang tabligh adalah mereka yang mampu meluruskan hoaks, menyampaikan kebenaran meski pahit, dan membuka ruang dialog dengan rakyatnya.
Kaidah Emas: Kebijakan Harus Berbasis Kemaslahatan
Keempat sifat di atas bermuara pada satu kaidah emas dalam fiqih kepemimpinan Islam: Tasharruful imam 'ala ra'iyyah manuthun bil maslahah. (Artinya: "Kebijakan seorang imam/pemimpin terhadap rakyatnya harus berdasar pada kemaslahatan/kebaikan bersama").
Jika empat sifat Rasulullah ini dipegang teguh, maka tidak akan ada lagi kebijakan yang lahir dari ego penguasa. Setiap undang-undang, setiap peraturan daerah, hingga setiap keputusan di tingkat RT/RW, akan selalu bermuara pada pertanyaan: "Apakah ini membawa kebaikan bagi rakyat banyak?"
Kita Semua Adalah Pemimpin
Di penghujung khutbahnya, Ustadz Achmad memberikan sebuah reminder (pengingat) keras namun menyejukkan. Keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya dituntut bagi Presiden, Menteri, Gubernur, atau Bupati.
"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya," sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud.
Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya. Seorang ibu adalah madrasah dan pemimpin bagi anak-anaknya. Seorang manajer adalah pemimpin bagi karyawannya. Hingga seorang guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di yaumil hisab kelak.
Maka, di momentum Maulid Nabi 1448 H / 2026 M ini, mari kita tidak sekadar memuji sejarah masa lalu. Mari kita hidupkan kembali ruh kepemimpinan Rasulullah SAW dalam setiap detak nadi kehidupan kita, baik sebagai pejabat publik maupun pemimpin di lingkup terkecil keluarga kita.
Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita mampu meneladani akhlak dan kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad SAW, serta mengumpulkan kita bersama beliau di telaga Al-Kautsar kelak. Aamiin.
Tags: Maulid Nabi 2026, Khutbah Jumat, Sifat Rasulullah, Kepemimpinan Islam, Shiddiq Amanah Fathanah Tabligh, Ustadz Achmad Hasanuddin, Keteladanan Nabi Muhammad, Piagam Madinah, Pemimpin Idaman.