“Dua orang itu sudah kita panggil, kita bina. Rumah sakitnya juga kita kasih surat teguran. Jadi kita beri teguran semuanya,” tegas dr. Hexawan.

Pemberian teguran tersebut merupakan langkah awal dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran serupa di masa depan. Pihak Dinkes juga mengimbau seluruh rumah sakit dan fasilitas kesehatan di wilayahnya untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pegawai di media sosial.

Permintaan Maaf dari Rumah Sakit
Atas kejadian ini, dr. Dwi Rizki Wulandari selaku direktur rumah sakit menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa pihaknya sangat serius dalam menangani masalah profesionalisme dan etika kerja para tenaga medis.

“Saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian ini. Kami akan terus berupaya menjaga nama baik rumah sakit dan memastikan bahwa semua petugas medis bekerja secara profesional dan penuh tanggung jawab,” kata dr. Rizki.

Ia juga mengimbau seluruh staf medis untuk lebih hati-hati dalam menggunakan media sosial. “Saya juga menyampaikan kepada teman-teman kami agar berhati-hati berperilaku di media sosial, menjaga komunikasi dengan pasien dan keluarganya, serta memastikan memberikan pelayanan yang terbaik,” imbuhnya.


Tanggapan Masyarakat dan Netizen
Kejadian ini sempat menjadi viral di media sosial, dengan banyak netizen yang mengecam aksi kedua nakes tersebut. Banyak yang menilai bahwa ruang operasi adalah area sensitif yang seharusnya tidak diekspos secara publik, apalagi untuk tujuan hiburan atau konten media sosial.

Sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi profesi medis turut angkat bicara. Mereka menyoroti pentingnya edukasi dan pembinaan bagi tenaga kesehatan terkait penggunaan media sosial secara bijak.

Pentingnya Etika Profesi di Dunia Medis
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya menjaga etika profesi di dunia medis. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut untuk memiliki keahlian teknis, tetapi juga kesadaran tinggi terhadap privasi pasien, protokol rumah sakit, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.