unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Evaluasi I.League: Pelanggaran Disiplin di EPA Masih Tinggi
News

Evaluasi I.League: Pelanggaran Disiplin di EPA Masih Tinggi

Final EPA Super League di Lapangan Garudayaksa
A A Ukuran Teks16px

Direktur Kompetisi I.

League Asep Saputra mengakui masih ada pelanggaran disiplin yang cukup tinggi di Elite Pro Academy (EPA) musim ini.

Hal itu disampaikan usai final EPA Super League di Lapangan Garudayaksa, Bekasi, Minggu (17/5/2026).

Kompetisi EPA musim ini resmi berakhir dengan kemenangan Persija Jakarta U20 atas Malut United U20 dengan skor 1-0.

Sebelumnya, Persik Kediri menjadi juara EPA Super League U16 dan Malut United juara di U18. Sabtu lalu, Sumsel United memenangkan final EPA Championship U19.

Insiden Viral dan Sanksi Tegas

Salah satu kasus pelanggaran disiplin yang viral terjadi pada pertandingan EPA U20 antara Bhayangkara Presisi Lampung melawan Dewa United Banten pada 19 April.

Laga yang digelar di Stadion Citarum, Semarang, itu diwarnai kericuhan.

Pemain Bhayangkara sekaligus penggawa timnas U17, Fadly Alberto Hengga, melakukan tendangan bergaya kungfu kepada pemain Dewa United, Rakha Nurkholis.

Insiden itu sempat memicu amarah kedua pihak, namun akhirnya diselesaikan secara damai dengan jabat tangan.

Meski damai, Komite Disiplin PSSI tetap memberikan sanksi. Alberto Hengga menerima hukuman larangan bermain selama tiga tahun.

Asep Saputra menegaskan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah insiden serupa. Salah satunya dengan memberikan sanksi tegas sesuai kode disiplin yang berlaku.

“Ketika bertemu dalam satu forum, bicara campaign-campaign-nya juga kita harus perkuat, perketat, hukumannya juga tentu yang sesuai dengan kode disiplin yang ada,” ujar Asep.

Ia berharap sanksi itu memberikan efek jera, namun tetap mempertimbangkan sisi development pemain muda.

Perubahan Format Musim Depan

Untuk musim depan, tidak ada perubahan pada EPA Super League yang tetap menggelar kompetisi U16, U18, dan U20.

Namun, akan ada penambahan kelompok umur di EPA Championship yang musim ini hanya memainkan U19.

Asep juga membocorkan kemungkinan perubahan format kompetisi.

Format baru bisa menggabungkan sistem round-robin, swiss, atau home and away yang dikombinasikan dengan centralized dan series untuk daerah di luar Jawa.

“70 persen sedang kita godok, mudah-mudahan dalam waktu dekat kita akan bagi informasinya kepada semua klub,” tutup Asep.

Asep Saputra menekankan bahwa pelanggaran disiplin di EPA masih menjadi pekerjaan rumah besar, tidak hanya bagi klub, tetapi juga I.

League, ofisial, perangkat pertandingan, dan penonton. Ia mengingatkan pentingnya pembinaan sikap profesional dan sportivitas sejak usia muda.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru