Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meluapkan kemarahannya kepada Israel. Ia juga mengancam akan menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kemarahan itu dipicu oleh penahanan warga Korea Selatan oleh Israel. Insiden tersebut terjadi dalam aksi Flotilla yang membawa bantuan ke Gaza.
Kronologi Insiden Flotilla
Flotilla tersebut merupakan upaya pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Kapal-kapal yang membawa bantuan dicegat oleh angkatan laut Israel.
Dalam insiden itu, beberapa warga Korea Selatan ikut serta. Mereka kemudian ditahan oleh otoritas Israel.
Penahanan ini memicu reaksi keras dari pemerintah Korea Selatan. Presiden Lee Jae Myung langsung mengambil sikap tegas.
Perintah Kajian Penangkapan Netanyahu
Lee Jae Myung memerintahkan kajian hukum untuk penangkapan Netanyahu. Langkah ini akan diterapkan jika Netanyahu masuk ke wilayah Korea Selatan.
Perintah tersebut menunjukkan eskalasi ketegangan diplomatik antara kedua negara. Korea Selatan selama ini dikenal sebagai mitra dagang penting Israel.
Namun, insiden Flotilla telah mengubah hubungan tersebut. Pemerintah Korsel menilai tindakan Israel melanggar hukum internasional.
Kajian penangkapan Netanyahu didasarkan pada yurisdiksi universal. Korea Selatan dapat menangkap pemimpin asing yang diduga melakukan kejahatan perang.
Langkah ini jarang dilakukan oleh negara-negara sekutu AS. Namun, Korsel tampaknya ingin menunjukkan sikap independen.
Belum ada tanggapan resmi dari Israel atas ancaman tersebut. Netanyahu sendiri tengah menghadapi tekanan internasional terkait perang di Gaza.
Insiden Flotilla bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, kapal bantuan Mavi Marmara diserbu Israel pada 2010.
Saat itu, sembilan aktivis Turki tewas dalam serangan tersebut. Insiden itu memicu krisis diplomatik antara Turki dan Israel.
Kini, Korea Selatan menjadi negara terbaru yang bereaksi keras. Lee Jae Myung dikenal sebagai pemimpin yang vokal dalam isu Palestina.
Ia sebelumnya juga mengkritik kebijakan Israel di Gaza. Penahanan warga Korsel menjadi pemicu langsung kemarahannya.
Pemerintah Korsel telah meminta penjelasan resmi dari Israel. Mereka juga mendesak pembebasan segera warga yang ditahan.
Jika Israel tidak memenuhi tuntutan, Korsel akan mengambil langkah lebih lanjut. Ancaman penangkapan Netanyahu menjadi sinyal kuat.
Hubungan diplomatik Korsel-Israel kini berada di titik terendah. Kedua negara perlu mencari solusi untuk meredakan ketegangan.
Namun, sikap keras Lee Jae Myung mendapat dukungan dari publik dalam negeri. Banyak warga Korsel yang marah atas perlakuan Israel terhadap warga mereka.
Media Korea Selatan memberitakan insiden ini secara luas. Mereka menyoroti pelanggaran hukum internasional oleh Israel.
Beberapa pengamat menilai langkah Korsel sebagai bentuk tekanan politik. Namun, ada juga yang meragukan efektivitas ancaman penangkapan tersebut.
Netanyahu jarang bepergian ke Asia Timur. Kemungkinan ia mengunjungi Korea Selatan sangat kecil.
Meski demikian, perintah kajian tetap memiliki nilai simbolis. Ini menunjukkan bahwa Korsel serius menegakkan hukum internasional.
Langkah Lee Jae Myung juga bisa mempengaruhi negara lain. Beberapa negara mungkin mengikuti jejak Korsel dalam menekan Israel.
Namun, Israel memiliki sekutu kuat seperti Amerika Serikat. Tekanan dari negara-negara kecil mungkin tidak cukup mengubah kebijakan Israel.
Korea Selatan sendiri memiliki hubungan dekat dengan AS. Langkah ini bisa menimbulkan ketegangan dengan Washington.
Namun, Lee Jae Myung tampaknya tidak gentar. Ia bertekad membela warga negaranya dan menegakkan keadilan.
Insiden Flotilla dan ancaman penangkapan Netanyahu akan terus menjadi sorotan. Dunia menunggu perkembangan selanjutnya dari konflik diplomatik ini.