unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Trump: Negosiasi dengan Iran Berjalan Cepat, Israel dan Hizbullah Setuju Hentikan Serangan
News

Trump: Negosiasi dengan Iran Berjalan Cepat, Israel dan Hizbullah Setuju Hentikan Serangan

Presiden AS Donald Trump berbicara di Kantor Oval Gedung Putih
Presiden AS Donald Trump berbicara di Kantor Oval Gedung Putih
A A Ukuran Teks16px

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi damai dengan Iran terus berjalan dengan cepat.

Pernyataan itu muncul setelah laporan bahwa Teheran menangguhkan pembicaraan dengan AS sebagai protes atas serangan Israel di Lebanon.

Trump menyampaikan hal tersebut dalam unggahan di media sosial, Senin (2/6/2026).

Ia juga mengklaim bahwa Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran sepakat untuk tidak saling menyerang.

"Pembicaraan terus berlangsung, dengan kecepatan tinggi, bersama Republik Islam Iran," tulis Trump di Truth Social.

Dalam unggahan terpisah, Trump menjelaskan percakapannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan perwakilan Hizbullah.

"Saya melakukan panggilan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel, dan tidak akan ada pasukan yang masuk ke Beirut, dan pasukan yang sedang dalam perjalanan sudah diputar balik," katanya.

"Demikian pula, melalui perwakilan tingkat tinggi, saya melakukan panggilan yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka setuju bahwa semua tembakan akan berhenti — bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel," tambah Trump.

Sebelumnya, The Washington Post dan media lain melaporkan bahwa Teheran menangguhkan negosiasi dengan Washington karena serangan Israel yang menargetkan militan Hizbullah di Lebanon.

Hal ini mempersulit upaya mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Timur Tengah.

Laporan penangguhan pembicaraan muncul di tengah meningkatnya ketegangan.

AS melakukan serangan "bela diri" terhadap radar dan situs komando Iran akhir pekan lalu, sementara Iran menembakkan rudal ke pasukan AS di Kuwait.

Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengaku tidak diberitahu sebelumnya tentang keputusan penangguhan itu. "Itu tidak berarti kami akan pergi dan mulai menjatuhkan bom di mana-mana," katanya.

"Jika mereka tidak mau bicara, tidak masalah bagi saya. Saya pikir itu baik-baik saja.

Saya juga tidak terlalu ingin bicara. Kami terlalu banyak bicara," ujar Trump.

Minggu lalu, ekspektasi meningkat bahwa Washington dan Teheran semakin dekat untuk menyelesaikan nota kesepahaman (MOU).

Kerangka kerja itu dilaporkan akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, membuka kembali Selat Hormuz, dan melanjutkan negosiasi program nuklir Iran di fase kedua.

Namun, Trump dilaporkan memperketat persyaratan MOU dan mengirimkan versi revisi kembali ke Republik Islam.

Pemerintahan Trump menekankan bahwa kesepakatan damai dengan Iran harus memenuhi tuntutan "garis merah" presiden, yaitu Iran berkomitmen untuk tidak mengejar senjata nuklir, menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi, dan membuka kembali Selat Hormuz.

Dalam unggahan lain di Truth Social, Trump mengulangi bahwa ia akan mencari kesepakatan yang "baik".

"Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi AS dan mereka yang bersama kami," tulisnya.

Ia kemudian mengkritik mereka yang kritis terhadap negosiasi pemerintahannya dengan Republik Islam.

"Tetapi apakah para Demokrat dan berbagai Republikan yang tampaknya tidak patriotik tidak mengerti bahwa jauh lebih sulit bagi saya untuk melakukan pekerjaan saya dengan benar dan bernegosiasi, ketika para politisi terus-menerus 'berkicau' secara negatif, pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya, bahwa saya harus bergerak lebih cepat, atau lebih lambat, atau pergi berperang, atau tidak berperang, atau apa pun," ujarnya.

"Duduk saja dan santai, semuanya akan berhasil pada akhirnya — selalu berhasil," pungkas Trump.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru