China pada Kamis menuduh Amerika Serikat mendistorsi fakta dan memfitnah sistem politiknya, menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tentang peristiwa Tiananmen 1989.
Rubio dalam konferensi pers Rabu mengatakan bahwa "tidak ada jumlah sensor yang dapat menghapus masa lalu."
"Mereka yang berkorban untuk menegakkan hak kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai suatu hari akan dibenarkan," ujarnya.
Juru bicara Kementerian Luar China Mao Ning menyatakan pihaknya sangat menentang komentar Rubio.
"Pemerintah China telah lama mencapai kesimpulan yang jelas mengenai gejolak politik yang terjadi pada akhir 1980-an itu," kata Mao dalam konferensi pers rutin.
"Pernyataan keliru dari pihak AS mendistorsi fakta sejarah, memfitnah sistem politik dan jalur pembangunan China, serta mencampuri urusan dalam negeri China," tambahnya.
Pada 4 Juni 1989, pemerintah China mengirim tentara dan tank untuk menumpas protes yang menuntut reformasi politik di sekitar Lapangan Tiananmen Beijing.
Jumlah korban tewas tidak diketahui pasti, dan diskusi tentang peristiwa itu disensor di China daratan.
Pemerintah China saat itu secara resmi mendefinisikan protes Tiananmen sebagai "kerusuhan kontra-revolusioner" yang didorong oleh "sejumlah kecil orang."
Otoritas mengatakan sekitar 200 hingga 300 orang tewas, termasuk tentara. Perkiraan lain berkisar antara 400 hingga lebih dari 2.000, namun angka pastinya tidak diketahui.
Tahun ini, otoritas dilaporkan mencegah keluarga korban 1989 mengunjungi makam mereka di Pemakaman Wan'an Beijing. Amnesty International menyebut langkah itu "tindakan tidak berperasaan."
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing bergerak untuk menghentikan semua peringatan publik di Hong Kong, di mana lilin vigil tahunan telah diadakan selama puluhan tahun sebelum penerapan undang-undang keamanan nasional pada 2020.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, wartawan AFP melihat kehadiran polisi yang besar pada Rabu dan Kamis di dekat Taman Victoria Hong Kong, bekas lokasi acara tersebut.
Puluhan polisi dikerahkan dengan penghalang jalan, dan polisi berpakaian preman menghentikan serta menggeledah beberapa aktivis.
Di distrik perbelanjaan Causeway Bay, seorang wanita yang membuat gerakan tangan melambangkan angka enam dan empat dibawa pergi oleh polisi.
Chan Po-Ying, mantan pemimpin kelompok pro-demokrasi yang dibubarkan League of Social Democrats, juga digiring ke mobil polisi.
Ia dikerumuni wartawan saat berjalan memegang mawar kertas kuning, yang diperintahkan polisi untuk disimpan.
"Yang bisa kami lakukan sekarang sangat, sangat sedikit... Taman Victoria menyimpan 37 tahun memori kolektif warga Hong Kong.
Saya harap kami tidak akan melupakan memori kolektif ini," kata Chan kepada wartawan sebelum ditahan.
Polisi mengatakan tujuh orang, lima pria dan dua wanita, dibawa dari area tersebut untuk penyelidikan lebih lanjut, dan kemudian diizinkan pergi.
Alfred Tian, 29, mengatakan ia sengaja datang dari China daratan untuk berjalan di sekitar taman dan berdoa bagi para korban.
"Sebagai orang China, ketika Anda mempelajari sejarah itu... Saya pikir awalnya itu benar-benar mengejutkan karena kebanyakan orang China tidak benar-benar tahu banyak tentangnya," katanya.
"Ini seperti api di hati, pengejaran demokrasi, kebebasan berbicara," tambahnya.