Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di bawah tekanan, meskipun kondisinya tidak separah bursa Korea Selatan.
Pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026), IHSG menguat 2,28% ke level 5.875.
>>> Ririn Septiani Jadi Sorotan Usai Sarah Gibson Bongkar Dugaan Perselingkuhan Diska Resha
Penguatan ini memangkas akumulasi penurunan sepekan menjadi hanya 0,35% dibanding penutupan pekan lalu di 5.896.
Di kawasan ASEAN, penurunan 0,35% tersebut menjadikan IHSG sebagai yang terburuk kedua setelah VN-Index, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Sabtu (4/7/2026).
Namun, dalam skala Asia Pasifik, KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan paling tajam dengan akumulasi minus 3,84%.
>>> Wacana Ganti Nama Jawa Barat Jadi Tatar Sunda atau Pasundan Kembali Mengemuka
Sepanjang pekan 29 Juni-3 Juli 2026, IHSG menunjukkan volatilitas tinggi akibat sejumlah sentimen.
Salah satunya adalah indeks manufaktur PMI Indonesia yang mengalami kontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026.
>>> Dasco Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke Nadiem Makarim
Selain itu, tarik ulur perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut mempengaruhi pergerakan pasar.
