unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Review Film: 402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi Berani dengan Bumbu Nusantara
Hiburan

Review Film: 402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi Berani dengan Bumbu Nusantara

Poster film 402 Rumah Sakit Angker Korea
Review Film: 402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi Berani dengan Bumbu Nusantara
A A Ukuran Teks16px

Mengadaptasi film horor populer seperti Gonjiam: Haunted Asylum (2018) adalah langkah berisiko tinggi. 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026) berani mengambil tantangan itu dengan menambahkan sentuhan lokal.

Gonjiam (2018) garapan Jung Bum-shik dianggap sebagai salah satu film horor found footage terbaik. Delapan tahun setelah rilis, reputasinya masih sulit ditandingi.

Kelebihan Produksi dan Sinematografi

Dari segi produksi, film ini dibuat dengan niat. Desain set rumah sakit terbengkalai terlihat meyakinkan, dengan efek poltergeist yang patut diacungi jempol.

Gambar yang jernih menjadi nilai tambah dibanding film horor lokal yang sering gelap-gelapan. Sutradara Anggy Umbara menyesuaikan kualitas visual dengan standar konten YouTube era 2024.

Scoring hanya muncul di adegan penting, efisien dalam membangun suasana tanpa berlebihan.

Unsur Indonesia yang Terpaksa

Sayangnya, niat menghadirkan mistik Indonesia seperti jelangkung dengan batok kelapa dan mantra berbahasa Korea justru terasa cringe.

Perpaduan ini seperti ramyun dicampur mi soto—ada yang cocok, ada yang aneh.

Padahal, kehadiran anak muda Indonesia dan orang Korea berbahasa Jawa medok sudah cukup untuk memberikan nuansa lokal. Unsur mistik tradisional terasa dipaksakan dan tidak logis dalam konteks cerita.

Cerita Tambahan yang Kurang Matang

Film ini menambahkan twist tentang kultus sesat yang sempat ramai di Korea Selatan. Meski positif, pengembangan cerita terasa ganjil dan kurang terencana.

Dalam Gonjiam asli, misteri dibiarkan menggantung untuk menjaga tensi horor. Namun, tim kreatif mungkin ingin memenuhi selera penonton Indonesia yang lebih suka penjelasan gamblang.

Akibatnya, muncul pertanyaan besar seperti apakah rumah sakit itu kini dihuni monster. Aspek kekerasan dan thriller yang ditambahkan juga terasa berlebihan dan mengurangi nuansa mistis.

Gaya Found Footage yang Terlalu Rapi

Gaya found footage dalam film ini terasa terlalu rapi dan bersih. Padahal, found footage identik dengan kesan mentah untuk menciptakan ilusi 'sungguhan'.

Penggunaan filter efek membuat film ini lebih mirip produk editing komputer. Bahkan dibanding konten YouTube perburuan hantu, film ini masih terasa seperti drama horor studio.

Penampilan ketujuh aktor juga tidak banyak membantu meningkatkan kengerian, selain dari ucapan sumpah serapah.

Kesimpulan

Meski banyak catatan, film ini berhasil memperkenalkan kisah Gonjiam kepada penonton yang belum pernah menontonnya. Film asli sulit ditemukan di layanan streaming, sehingga adaptasi ini menjadi alternatif.

Namun, Gonjiam: Haunted Asylum (2018) tetap sulit ditandingi, setidaknya hingga saat ini.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru