Mi Zhengrong, 72 tahun, bertemu suaminya melalui kerabat di Provinsi Hubei, China.
Suaminya adalah veteran perang saudara yang melarikan diri ke Taiwan dan kemudian diizinkan kembali ke China untuk mengunjungi kampung halaman.
Mereka menikah dan tinggal di China, tetapi suaminya merindukan Taiwan, sehingga pindah ke pulau itu pada 2002. Suaminya meninggal setelah 12 tahun bersama.
Mi kemudian menikah lagi dengan tetangga di Taiwan, dan mereka bersama selama hampir satu dekade.
Sekarang, Mi berjuang untuk mendapatkan pensiun suami keduanya, yang seharusnya ia terima jika pernikahan mereka mencapai 10 tahun.
Namun, suaminya meninggal 13 hari sebelum batas waktu tersebut. Mi hidup dengan sekitar NT$10.000 (US$330) per bulan, sepertiganya untuk sewa.
Meski demikian, ia lebih memilih Taiwan. "Berapa banyak dari kami yang ingin kembali?
Tidak ada yang ingin kembali," katanya.
Pemerintah Taiwan sebelumnya mengubah undang-undang untuk mengintegrasikan komunitas ini dengan memperpendek waktu mendapatkan kewarganegaraan dan mengizinkan mereka bekerja.
>>> Jadwal Persija Jakarta di Super League 2026/2027: Dua Laga Klasik di Pekan Awal
Namun, kini integrasi 'pasangan daratan' mulai dibatasi.
Musim semi lalu, pemerintah Taiwan mendeportasi tiga wanita yang mengadvokasi reunifikasi dengan China secara paksa.
Dewan Urusan Daratan Taiwan mengatakan mereka mewakili 'ancaman berulang terhadap keamanan nasional dan stabilitas sosial Taiwan'.
Otoritas imigrasi Taiwan juga mengeluarkan pemberitahuan kepada sekitar 12.000 pasangan yang sudah memiliki kewarganegaraan Taiwan untuk memberikan bukti pembatalan registrasi rumah tangga di China atau kewarganegaraan mereka akan dicabut.
Li, mantan legislator, dilantik pada Februari dengan Partai Rakyat Taiwan dan mendapat tentangan keras.
Menteri Dalam Negeri Taiwan mengatakan Li tidak dapat menjabat karena tidak menyerahkan dokumen yang menunjukkan pelepasan kewarganegaraan China-nya.
