Stephen Chow kembali membuktikan kepiawaiannya mengolah komedi absurd dan aksi beladiri khasnya melalui Kung Fu Soccer. Film ini hadir untuk mengobati kerinduan penggemar.
Kali ini, Chow membawa ide segar tentang sekelompok perempuan berusia 30-an yang dianggap 'kedaluwarsa' untuk dunia olahraga. Mereka berjuang membuktikan kapasitas lewat solidaritas dan kesempatan kedua.
Sejak menit pertama, Chow yang merangkap sutradara dan penulis naskah ogah membuang waktu untuk basa-basi.
Ia langsung melempar penonton ke tengah arena, menyaksikan perjuangan klub sepak bola putri yang tak diunggulkan dalam turnamen besar.
Sayangnya, keputusan tancap gas sejak awal membuat paruh pertama film terasa agak ngos-ngosan. Penonton dipaksa menerima luapan emosi dan dinamika internal pemainnya tanpa dibekali fondasi cerita yang jelas.
Penokohan dan Akting
Fokus penceritaan terletak pada Shuangshuang, kapten sekaligus pelatih tim sepak bola Emei yang diperankan Zhang Xiaofei.
Xiaofei tampil total dengan ekspresi maniak dan emosi meledak-ledak, seperti cermin versi perempuan dari karakter master brother yang ikonis di film-film Chow sebelumnya.
Ia kemudian dibenturkan dengan Dilraba Dilmurat yang memerankan Yu Long, mantan sahabat yang pernah terpisah dan kini bersikap cuek.
Dilraba tampil total, melepas beban citra aktris jelita demi peran yang santai tapi karismatik.
Gesekan kepribadian Shuangshuang dan Yu Long sebetulnya punya modal kuat untuk digali lebih dalam. Sayangnya, eksekusi terasa dangkal sehingga kilas balik mereka seperti formalitas penambal lubang naskah.
Pendekatan ini bertolak belakang dari Shaolin Soccer yang royal membagikan porsi tumbuh bagi karakter pendukung seperti Zhao Wei atau mendiang Ng Man-Tat.
Komedi dan Efek Visual
Dalam 106 menit durasinya, Kung Fu Soccer menghabiskan banyak waktu fokus pada luapan amarah pemeran utama. Alhasil, karakter di luar mereka cuma jadi figuran tanpa jiwa.
Secara garis besar, cerita dibagi dalam tiga babak yang diselingi enam laga turnamen. Chow mengandalkan komedi slapstick bertubi-tubi dengan karikatur tim lawan yang konyol.
Meski tak sebanyak pendahulunya, slapstick tersebut masih sukses mengundang gelak tawa. Namun, ada juga yang terasa dipaksakan.
Emosi dan komedi baru menemukan ritme yang pas di pertengahan film. Rekonsiliasi Shuangshuang dan Yu Long menjadi titik balik yang bikin penonton paham alasan gesekan di awal.
Babak semifinal di fase ini jadi sekuens terbaik karena pacing yang rapi, humor cair, dan efek yang smooth.
Jauh lebih memuaskan ketimbang laga puncaknya sendiri.
Kalau urusan bola dan slapstick di lapangan jadi jatah para aktris, ruang komedi di luar lapangan hampir sepenuhnya ditopang oleh penampilan Lay Zhang (Zhang Yixing).
Momen salah paham antara karakternya, Xu Feng, dan Xiaofei melahirkan adegan paling mengocok perut.
Yixing tampil tanpa beban dan menikmati setiap adegannya. Member EXO ini melepas habis status dan imej sebagai idola, menjadikannya penggerak plot yang vital.
Kejutan terbesar justru datang dari Sisley Choi sebagai Ziba (88). Ia layak disebut scene stealer dalam film ini.
Dengan porsi tampil yang irit, ekspresi lempeng dan pembawaan santainya berhasil menghidupkan kembali ruh komedi klasik era keemasan Stephen Chow.
Catatan mengganjal film ini justru datang dari departemen efek visual (VFX). Estetika komik absurd yang diusung Chow tidak didukung pengerjaan CGI yang matang.
Beberapa adegan sederhana yang tak butuh efek heboh malah kelihatan janggal karena transisi gambar yang mendadak lambat dan terkesan glitchy.
Keterikatan emosi penonton pun sulit karena adegan pertandingan lebih banyak diambil di depan green screen.
Memasuki babak akhir, kolaborasi Chow bersama editor Yeung Kai-wing dan tim efek seakan keteteran. Visual di laga final tampak mentah dan dibiarkan lolos, mengganggu rasa hanyut penonton.
Pada akhirnya, Kung Fu Soccer jelas bukan tontonan bagi mereka yang berburu naskah serius atau drama berbobot berat.
Kekuatan utama film ini ada pada ketidaklogisan dan kegilaan komedinya sendiri.
Rasa cinta Stephen Chow pada filosofi kung fu masih terpancar kuat di sepanjang alur, diikat oleh dialog 'Be water, my friend' yang diperdebatkan para karakternya.
Bagi penggemar lama, film ini tetap paket nostalgia dan surat cinta yang menyenangkan.