unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Review Kung Fu Soccer: Nostalgia Stephen Chow yang Menghibur Meski VFX Kurang Matang

Review Kung Fu Soccer: Nostalgia Stephen Chow yang Menghibur Meski VFX Kurang Matang

Review Kung Fu Soccer: Nostalgia Stephen Chow yang Menghibur Meski VFX Kurang Matang
Review Kung Fu Soccer: Nostalgia Stephen Chow yang Menghibur Meski VFX Kurang Matang
A A Ukuran Teks16px

Secara garis besar, cerita dibagi dalam tiga babak yang diselingi enam laga turnamen. Chow mengandalkan komedi slapstick bertubi-tubi dengan karikatur tim lawan yang konyol.

Meski tak sebanyak pendahulunya, slapstick tersebut masih sukses mengundang gelak tawa. Namun, ada juga yang terasa dipaksakan.

Emosi dan komedi baru menemukan ritme yang pas di pertengahan film. Rekonsiliasi Shuangshuang dan Yu Long menjadi titik balik yang bikin penonton paham alasan gesekan di awal.

Babak semifinal di fase ini jadi sekuens terbaik karena pacing yang rapi, humor cair, dan efek yang smooth.

>>> HP Rp3 Jutaan Paling Ngebut untuk Emulator PS2, Cek Daftarnya

Jauh lebih memuaskan ketimbang laga puncaknya sendiri.

Kalau urusan bola dan slapstick di lapangan jadi jatah para aktris, ruang komedi di luar lapangan hampir sepenuhnya ditopang oleh penampilan Lay Zhang (Zhang Yixing).

Momen salah paham antara karakternya, Xu Feng, dan Xiaofei melahirkan adegan paling mengocok perut.

Yixing tampil tanpa beban dan menikmati setiap adegannya. Member EXO ini melepas habis status dan imej sebagai idola, menjadikannya penggerak plot yang vital.

Kejutan terbesar justru datang dari Sisley Choi sebagai Ziba (88). Ia layak disebut scene stealer dalam film ini.

Dengan porsi tampil yang irit, ekspresi lempeng dan pembawaan santainya berhasil menghidupkan kembali ruh komedi klasik era keemasan Stephen Chow.

Catatan mengganjal film ini justru datang dari departemen efek visual (VFX). Estetika komik absurd yang diusung Chow tidak didukung pengerjaan CGI yang matang.

Beberapa adegan sederhana yang tak butuh efek heboh malah kelihatan janggal karena transisi gambar yang mendadak lambat dan terkesan glitchy.

Keterikatan emosi penonton pun sulit karena adegan pertandingan lebih banyak diambil di depan green screen.

Memasuki babak akhir, kolaborasi Chow bersama editor Yeung Kai-wing dan tim efek seakan keteteran. Visual di laga final tampak mentah dan dibiarkan lolos, mengganggu rasa hanyut penonton.

Pada akhirnya, Kung Fu Soccer jelas bukan tontonan bagi mereka yang berburu naskah serius atau drama berbobot berat.

Kekuatan utama film ini ada pada ketidaklogisan dan kegilaan komedinya sendiri.

Rasa cinta Stephen Chow pada filosofi kung fu masih terpancar kuat di sepanjang alur, diikat oleh dialog 'Be water, my friend' yang diperdebatkan para karakternya.

>>> Aktor X-Men Nicholas Hoult Jadi Gilderoy Lockhart di Serial HBO

Bagi penggemar lama, film ini tetap paket nostalgia dan surat cinta yang menyenangkan.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru
stikibot