Waralaba Insidious kembali berlanjut lewat Insidious: Out of the Further (2026). Kelanjutan ini hadir setelah kisah lima film sebelumnya ditutup di The Red Door (2023).
Film horor tentang orang yang bisa keluar dari tubuh saat tidur dan menjelajah dunia astral ini merupakan salah satu waralaba paling cuan.
Dari lima film yang tayang, rata-rata pendapatannya mencapai 28 kali lipat dari bujet.
Namun, kualitas cerita kerap menjadi korban dari obsesi studio meraup keuntungan. Hal itu juga berlaku pada Insidious: Out of the Further.
Secara umum, film ini masih meneruskan kisah penjelajahan dunia astral The Further. Lin Shaye yang kini sepuh tetap diandalkan, meski karakternya sempat dimatikan sejak film pertama.
Antusiasme terhadap film ini berbeda dengan The Red Door. Pada The Red Door, penggemar ingin melihat akhir kisah Josh dan Dalton yang dimulai sejak 2011.
Untuk Out of the Further, ada skeptisisme terhadap cerita yang disajikan Leigh Whannell dan tim.
Mereka pun merekrut kru serta pemain yang hampir seluruhnya berbeda dari lima film sebelumnya.
Jacob Chase, sutradara yang belum banyak pengalaman film panjang, menulis dan mengarahkan cerita baru Insidious.
Ia membangun fondasi pola cerita yang sudah ada dengan pemain yang nyaris belum pernah bersinggungan dengan semesta Insidious.
Hasilnya, Out of the Further memang berbeda dari saga-saga sebelumnya. Film ini terasa seperti reboot halus dari waralaba horor tersebut.
Chase memberikan sentuhan segar, terutama dari segi pengambilan gambar oleh Dave Garbett. Garbett sebelumnya menjadi sinematografer The Mummy (2026) dan Evil Dead Rise (2023).
Trik kamera close-up dan extreme close-up yang dikombinasikan dengan adegan semi-gore menjadi andalan Chase dan Garbett. Hal itu dipakai untuk menaikkan intensitas cerita yang sebenarnya hambar.
Lewat film ini, Chase dan Garbett tak lagi mengandalkan plot adegan atau karakter demon ikonis seperti The Lipstick-Face Demon.
Mereka lebih memilih adegan semi penyiksaan yang bikin kepala pening atau ngilu.
Jason Blum, Oren Peli, James Wan, dan Leigh Whannell selaku produser membuat pertaruhan besar untuk Insidious.
Racikan Chase dan Garbett bisa membuat penggemar sejak 2011 berpikir ulang, atau justru menyukai formula baru ini.
Upaya Chase memberikan angin segar memang patut diapresiasi. Ia memasukkan kisah yang lebih kompleks sampai menyinggung fenomena sosial.
Namun, gagasan itu terbanting oleh manipulasi kamera yang mendistraksi fokus penonton.
Ada pula 'pintu-pintu' baru gagasan Chase serta David Leslie Johnson-McGoldrick yang memungkinkan semesta Insidious berkembang di masa depan.
Sebenarnya, cerita yang ditulis Chase ini akan lebih cocok bila disajikan di saga ketiga atau keempat.
Dengan begitu, Insidious bisa memiliki berbagai jenis kasus penjelajahan The Further dengan jatah film yang cukup.
Namun, film ini memang mendadak beranak-pinak tanpa perencanaan sebelumnya. Insidious bukan yang pertama, dan pasti bukan yang terakhir.
Terlepas dari tipikal kapitalisme Hollywood, karangan bunga dan vitamin ekstra harus diberikan kepada Lin Shaye.
Di usia 82 tahun, ia masih menenteng lampu petromaks di tengah kegelapan melawan demon-demon Insidious.
Akting Lin Shaye memang tidak sampai membuat standing ovation. Namun, kesetiaannya pada waralaba ini melebihi idealisme para produser dan kreatornya.
Sosok Lin Shaye sudah seperti nenek bagi penggemar Insidious. Hanya dengan melihatnya, terasa seperti kembali ke rumah yang sudah dikenal.
Sambutan hangat juga pantas diterima Amelia Eve, Brandon Perea, dan Maisie Richardson-Sellers selaku pendatang baru. Bukan tidak mungkin, ketiganya memiliki jalan panjang untuk Insidious berikutnya.
Satu pesan bagi Leigh Whannell dan tim: jangan mengulangi kesalahan mematikan karakter Elise di film pertama. Kesalahan itu membuat Insidious meracau tak keruan hingga lima saga.