Menjelang Khutbah Jum’at nanti, mari kita sadari bahwa meneladani Rasulullah bukanlah tugas musiman yang hanya aktif saat bulan Rabi’ul Awwal atau saat lomba azan subuh digelar. Ia adalah kompas hidup yang harus menyala 24 jam sehari.
Hidup yang bermartabat di tahun 2026 ini bukanlah hidup yang paling kaya atau paling viral, melainkan hidup yang berhasil mendekatkan karakter kita pada akhlak Rasulullah SAW. Karena pada akhirnya, cinta kepada Nabi tidak diukur dengan air mata haru saat Maulid, melainkan dengan seberapa erat kita memegang erat "tali" ajarannya dalam setiap langkah kehidupan.
Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga kita semua digolongkan sebagai umat yang tidak hanya mengaku cinta di lisan, tetapi juga berhasil meneladani beliau hingga ke telaga Kautsar kelak. Aamiin.