Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin, menegaskan bahwa rekaman CCTV menjadi kunci utama dalam mengungkap identitas para pelaku. Gerak-gerik mencurigakan trio bocah ini terekam jelas, memaksa jajaran operasional Polresta Padang untuk langsung tancap gas melakukan pengejaran sejak Senin pagi.
Peta pengejaran pun membentang across Kota Padang. Tim polisi menyasar berbagai titik mulai dari kawasan Marapalam, Jati, hingga Gunung Pangilun. Informasi lapangan menunjukkan para pelaku terus bergerak menghindari kejaran aparat.
Namun, drama pengejaran ini sempat mengalami hambatan. Saat tim polisi mengarahkan pengejaran ke kawasan Bungus hingga Teluk Bayur, jejak para pelaku mendadak hilang. Diduga, trio ini mengubah rute perjalanan mereka untuk mengelabui petugas.
Plot Twist: Bersembunyi di Markas TNI AL Kodaeral II
Pengejaran yang sempat buntu ini akhirnya menemukan titik terang berkat kolaborasi lintas instansi. Petugas mendapat informasi berharga dari jajaran TNI Angkatan Laut di Kodaeral II/WM.
Ternyata, trio bocah yang menjadi buronan ini nekat masuk dan bersembunyi di dalam kawasan markas komando militer.
“Rekan-rekan TNI AL menginformasikan kepada kita sehingga kita berkoordinasi dan mendatangi lokasi. Ternyata benar, tiga anak yang masuk ke markas komando Kodaeral II tersebut merupakan pelaku yang teridentifikasi melakukan pencurian di Plaza Andalas,” jelas IPDA Ryan Fermana dengan nada lega.
Sinergi antara Polresta Padang dan TNI AL ini menjadi bukti bahwa ruang gerak pelaku kejahatan sekecil apa pun akan sulit untuk lolos dari hukum.
Jejak Barang Curian: Ada yang Dijual di Marketplace
Usai mengamankan para pelaku, polisi langsung melakukan pendalaman terkait aliran barang hasil curian (fencing). Dari hasil interogasi awal, diketahui bahwa barang-barang tersebut mulai disebarluaskan.
Satu unit handphone baru diketahui masih disimpan di wilayah Surian. Sementara itu, satu unit lainnya telah lebih dulu dijual oleh pelaku melalui jalur marketplace (jual-beli online). Polisi kini terus memburu para penadah dan melacak jejak digital transaksi ilegal tersebut.
Sebelum ditangkap di markas TNI AL, salah satu pelaku juga sempat kabur lebih dulu ke arah Surian hingga Bukittinggi, sebelum akhirnya pergerakan mereka kembali terdeteksi oleh radar kepolisian.