Hasilnya pun kurang memuaskan. "Hope" baru ditonton 4,52 juta orang, "Okay!
Madam 2" hanya 320.000, dan "The Journey to Gyeong-ju" yang rilis 26 Agustus baru 60.000 penonton.
Ketiganya diprediksi sulit mencapai titik impas.
Akibatnya, film asing menguasai 88,9 persen box office Korea pada Agustus. Hollywood seolah melahap habis pasar musim panas.
Iklim Investasi yang Lesu
Beberapa faktor menjadi penyebab lemahnya film Korea. Faktor terbesar adalah iklim investasi yang membeku.
Pandemi membuat jumlah penonton menyusut drastis, sehingga investasi di industri film menurun.
Dengan dana yang terbatas, jumlah produksi film pun berkurang. Akibatnya, film-film beranggaran besar yang menyasar musim panas semakin sulit ditemukan.
Masalah ini bukan hanya musiman. Industri film Korea bisa mengalami penurunan berkepanjangan.
>>> OnePlus 16 Siapkan Layar 165Hz Global dan Panel BOE Kustom
Meski ada film seperti "The King's Warden" yang sukses, secara keseluruhan industri masih berada dalam masa sulit.