Jumlah kasus Ebola yang dikonfirmasi di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah melampaui angka 6.000, menurut data pemerintah yang dirilis pada Senin.
Wabah ini kini menjadi yang terbesar dalam sejarah negara di Afrika Tengah tersebut, melampaui wabah terburuk sebelumnya yang terjadi pada 2018-2020.
>>> Taiwan Sebut China Makin Tak Terduga dan Perketat Kontrol Udara-Laut
Penyakit ini disebabkan oleh strain Bundibugyo dari virus Ebola, yang belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.
Kementerian Komunikasi DRC mengumumkan melalui platform X bahwa jumlah infeksi terkonfirmasi mencapai 6.041, dengan 2.911 kematian.
Tim respons tengah bekerja di enam provinsi yang terkena dampak, dengan fokus utama pada Ituri, Kivu Utara, dan Haut-Uele.
Upaya Penanganan dan Dampak Wabah
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menjadi perhatian internasional karena jumlah kasusnya yang terus meningkat.
>>> SK Kepengurusan PPP Pandeglang Diserahkan ke KPU dan Kesbangpol
Pemerintah setempat bersama organisasi kesehatan dunia terus berupaya menekan penyebaran virus, terutama di provinsi-provinsi yang paling terdampak seperti Ituri, Kivu Utara, dan Haut-Uele.
Strain Bundibugyo yang menyebabkan wabah ini diketahui memiliki tingkat penularan yang tinggi, namun belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui.
Hal ini menjadi tantangan besar bagi para tenaga medis di lapangan.
>>> Polda Jabar Bekuk 8 Anggota Jaringan Predator Anak yang Manipulasi Foto Korban dengan AI
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Tim respons kesehatan juga terus melakukan sosialisasi dan penelusuran kontak untuk memutus rantai penularan.