Koo Jeong-a menciptakan seni dari hal-hal yang sering luput dari perhatian: jejak aroma, cahaya yang muncul setelah gelap, atau kristal yang berkilau hanya jika penonton berdiri di tempat yang tepat.
Pameran tunggalnya di Leeum Museum of Art, bertajuk "KOO JEONG A: OUSSSMOS," mengubah kegelisahan itu menjadi pengalaman museum secara menyeluruh.
Pada suatu sore hujan, tantangan pertama adalah menemukan 50 kristal yang tersembunyi di dinding gabion gelap di luar galeri.
Tugas itu tampaknya dirancang untuk menguji apakah melihat sama dengan memahami.
Dalam karya berjudul "A Reality Upgrade & End Alone" (2003/2026), kristal-kristal itu menolak untuk menampakkan diri.
Hanya setelah mengubah posisi dan melihat lagi, kilatan cahaya kecil muncul.
Penemuan sekilas itu—atau kemungkinan tidak pernah menemukannya sama sekali—menjadi bagian integral dari karyanya.
"Melihat adalah memahami," kata Koo dalam konferensi pers Senin lalu untuk pameran barunya.
"Saya pikir melihat adalah mengetahui."
Namun, ia menambahkan bahwa ia tidak bisa memaksa penonton untuk memahami karyanya; ia hanya berharap mereka menemukan jalan mereka sendiri.
Koo, 59 tahun, lahir di Seoul dan belajar di Ecole des Beaux-Arts di Paris.
Sejak menetap di Paris pada 1990-an, ia berpindah-pindah kota dan medium—menggambar, patung, instalasi, film, suara, animasi, realitas tertambah, dan arsitektur—sambil menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang "hidup dan bekerja di mana-mana."
Seniman yang selama ini menjaga kehidupan pribadinya dari publik ini memiliki kehadiran yang tenang dan penuh teka-teki, serta gemar menciptakan istilah main-main dengan menggabungkan kata-kata yang akrab.
Staf museum yang bekerja dengannya menggambarkan Koo sebagai kolaborator yang jauh lebih hangat dan menawan daripada kesan publiknya yang pendiam—seorang seniman yang berbicara hemat dan lebih mudah mengomunikasikan idenya melalui gambar daripada kata-kata.
