Pasukan Amerika Serikat menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, 5 September, sebagai respons atas serangan rudal yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap dua kapal perang AS.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan tersebut, termasuk satu kapal tanker di lepas pantai Pulau Kharg, dekat hub ekspor minyak utama Iran.
Laksamana Brad Cooper, kepala CENTCOM, menegaskan pesan tegas kepada IRGC: jika mereka menembaki dua kapal AS, maka AS akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dengan menghancurkan tiga kapal mereka.
Iran merespons dengan ancaman serangan yang lebih keras terhadap kapal militer AS di kawasan tersebut.
Komando militer Iran menyatakan bahwa jika kejahatan, ketidakamanan, dan pelecehan terhadap kapal Iran serta blokade angkatan laut berlanjut, serangan terhadap kapal militer AS akan lebih parah dan berpotensi meluas.
Kronologi Serangan dan Dampaknya
Serangan ini terjadi setelah eskalasi dalam sepekan terakhir yang mengancam memperdalam konflik yang telah berlangsung sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Februari.
Konflik ini telah mengganggu pasokan energi global dan menuai penolakan dari mayoritas warga AS menjelang pemilihan kongres November.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada 31 Agustus mengunggah video buatan AI yang menyebut Pulau Kharg akan 'dihancurkan berkeping-keping'.
Otoritas Iran telah berjanji akan merespons keras jika Kharg diserang.
Iran adalah produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dan mengekspor 90% minyak mentahnya melalui Pulau Kharg sebelum perang.
Namun, aliran ekspor terganggu sejak blokade AS terhadap ekspor minyak Iran dimulai pada pertengahan April.
Trump sempat menyatakan ingin mengambil alih Pulau Kharg pada 11 Juni, tetapi kemudian mengatakan operasi militer yang mengancam itu batal untuk saat ini.
Keputusan itu diambil beberapa hari sebelum Teheran dan Washington menandatangani kesepakatan sementara pada 17 Juni yang bertujuan mengakhiri perang.
Serangan AS terhadap Kharg akan semakin menekan industri minyak Iran dan ekonomi yang lebih luas, yang sudah terpuruk akibat blokade angkatan laut AS.
Blokade AS diberlakukan setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur air penting yang membawa seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang.
Harga minyak mentah Brent ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli pada Jumat, di angka $96,28 per barel, karena ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasokan global.