unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Beyond Wukong, Drama Full AI Pertama China Raih Rating Tinggi
Hiburan

Beyond Wukong, Drama Full AI Pertama China Raih Rating Tinggi

Adegan drama Beyond Wukong produksi AI
Beyond Wukong, Drama Full AI Pertama China Raih Rating Tinggi
A A Ukuran Teks16px

China resmi menayangkan serial drama berdurasi penuh pertama yang sepenuhnya diproduksi kecerdasan buatan (AI). Serial berjudul Beyond Wukong itu bahkan mendapat jam tayang utama.

Penayangan perdana berlangsung pada 2 September 2026. Global Times melaporkan drama ini langsung mencetak rekor rating puncak di slot penayangannya.

Beyond Wukong merupakan adaptasi dari novel klasik Dinasti Ming, Journey to the West. Ceritanya berlatar 1.000 tahun setelah era Kera Sakti.

Tokoh utamanya adalah kera batu muda bernama Sun Xiaosheng. Ia melakukan perjalanan baru demi memulihkan tatanan kosmik.

Seluruh visual drama ini dirancang dengan menggabungkan estetika lukisan tradisional China dan sentuhan teknologi digital modern.

Proyek Percontohan Kebijakan Baru

Beyond Wukong menjadi proyek percontohan bagi kebijakan baru regulator penyiaran China yang dikenal sebagai 21 Broadcasting Guidelines.

Aturan itu mengatur pemangkasan birokrasi lewat skema 'tinjau sambil tayang'. Produksi dan evaluasi konten pun bisa dilakukan secara bertahap dan fleksibel.

Langkah ini memicu perdebatan sengit di media sosial China. Sebagian penonton memuji visual digitalnya yang dinilai mampu menyegarkan budaya klasik.

Namun, banyak pula yang meragukan kedalaman emosi dan penokohan cerita buatan mesin. Ada kekhawatiran AI akan menggeser tenaga kerja kreatif manusia.

Sutradara utama Beyond Wukong, Li Dongshen, menegaskan proses kreatif tetap dikendalikan manusia. Tim penulis naskah manusia merancang alur cerita, perkembangan karakter, dan dinamika emosi.

AI hanya membantu pembuatan visual dan penataan tata adegan. "Belum ada model AI untuk film yang bisa menulis naskah sendiri secara mandiri," ujar Li.

Ia menambahkan, seluruh penciptaan tetap digerakkan oleh pemikiran dan pertimbangan estetika manusia. AI memang memangkas biaya perbaikan naskah yang biasanya besar.

Namun, AI memiliki keterbatasan karena tidak bisa memberikan penolakan intuitif seperti juru kamera manusia. Karena itu, perancang tetap mengandalkan insting estetika.

Untuk menghindari isu hak cipta dan menjaga kualitas seni, tim produksi tetap memakai pengisi suara manusia dan mempertahankan tim artistik utama.

Pengamat media dari Universitas Normal Nanjing, Zhang Peng, menilai Beyond Wukong menjadi bukti masuknya teknologi AIGC ke industri televisi arus utama.

Sebelumnya, teknologi ini hanya populer di video pendek internet.

Zhang mengakui ekspresi mikro karakter buatan AI masih kaku dan perkembangan emosinya terkesan formulatis.

Menurutnya, AI sanggup membangun kerangka visual megah, tetapi belum bisa memahami makna iman, pengorbanan, dan rasa kemanusiaan yang menjadi roh literatur klasik.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru