Film epik sejarah garapan Christopher Nolan, The Odyssey, mencatatkan prestasi gemilang di Korea Selatan.
Pada Minggu, film ini berhasil menembus 10 juta tiket terjual hanya dalam 33 hari sejak penayangan perdananya.
Capaian ini menjadi yang kedua di Korea tahun ini setelah The King's Warden yang mencatat 16,92 juta tiket.
Bagi Nolan, ini merupakan film keduanya yang mencapai angka 10 juta tiket di Korea, setelah Interstellar pada 2014 dengan 10,38 juta tiket.
Dengan permintaan yang terus meningkat, analis industri memprediksi The Odyssey akan segera mengungguli Interstellar sebagai film terlaris Nolan di Korea.
Pertanyaannya, bagaimana film ini mampu menarik perhatian penonton di tengah dominasi layanan streaming?
Komitmen pada Format Analog Mendorong Penonton Menonton Ulang
Sejak sebelum rilis, The Odyssey telah menjadi sorotan sebagai film pertama yang seluruhnya direkam dengan kamera IMAX.
Meskipun peralatannya berat dan berisik, komitmen Nolan pada pembuatan film analog beresonansi kuat dengan penonton.
Kritikus budaya pop Hwang Jin-mi mengatakan penonton tergerak oleh dedikasi serius Nolan terhadap medium film dan merespons dengan serius pula pada tontonan visualnya.
Permintaan untuk pemutaran di teater IMAX CGV Yongsan I’Park Mall melonjak, dengan tiket dijual kembali hingga tujuh hingga delapan kali lipat harga aslinya.
Tontonan spektakuler ini juga memicu penonton untuk menonton ulang. Banyak penggemar kembali ke bioskop untuk membandingkan pemutaran standar dengan format premium.
Adaptasi Modern yang Relevan
Para kritikus juga menyoroti adaptasi modern dari epik karya Homer yang berusia 2.800 tahun sebagai kunci daya tarik film ini.
Nolan berfokus pada xenia, kode keramahan Yunani kuno yang mengharuskan tuan rumah melindungi tamu dan tamu memperlakukan tuan rumah dengan sopan.
