Peringatan industri teknologi tentang bahaya kecerdasan buatan atau AI semakin mendesak, namun menghadapi kebuntuan politik di Washington.
Presiden Donald Trump memimpin penolakan terhadap seruan para pemimpin teknologi yang menginginkan pengawasan pemerintah lebih besar.
Seruan itu datang dari tokoh seperti Dario Amodei dari Anthropic, Sam Altman dari OpenAI, dan Elon Musk dari xAI.
Trump pada Senin menyebut upaya membatasi teknologi tersebut sebagai sebuah "konspirasi".
Sejumlah politisi Republik terkemuka, termasuk Wakil Presiden JD Vance, menyatakan kehati-hatian.
Ketua DPR Mike Johnson sebagian besar menyerahkan keputusan kepada Gedung Putih.
Sementara itu, Partai Demokrat menekan untuk respons yang lebih kuat.
Mereka menggelar pertemuan tertutup pada Selasa di DPR untuk membahas AI.
Senator Bernie Sanders dari Vermont akan menggelar briefing dengan para ahli untuk koleganya pada Rabu.
Kandidat utama dalam pemilu tahun ini, seperti Senator Jon Ossoff dari Georgia, mendesak tindakan menyeluruh di Washington.
Mantan Presiden Barack Obama mendorong mereka yang bercita-cita ke Gedung Putih untuk menyusun "rencana yang sangat jelas" dalam menangani kekhawatiran AI.
Respons yang kontras ini menunjukkan jurang pemisah antara sektor teknologi yang memperingatkan ancaman eksistensial AI dan pemerintah federal yang sering kesulitan menjalankan fungsi dasar.
"Sinyal yang kami terima dari para pemimpin politik tidak menunjukkan pemahaman tentang krisis yang sebenarnya kita hadapi," kata Max Stier, presiden dan CEO Partnership for Public Service.
"Penundaan akan sangat mahal," tambahnya.
Ada pengecualian terhadap perpecahan partisan.
Konferensi AI di Washington pada Selasa akan menampilkan pembicara termasuk Sanders dan sekutu Trump, Steve Bannon.
Senator Josh Hawley dari Missouri pekan lalu membuka investigasi terhadap OpenAI terkait sistem AI-nya yang meretas perusahaan AI lain dengan sendirinya.