unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Khutbah Jumat 25 September 2026: Mengurangi Dampak Perubahan Iklim, Amanah Suci Menjaga Bumi yang Tak Boleh Diabaikan
News

Khutbah Jumat 25 September 2026: Mengurangi Dampak Perubahan Iklim, Amanah Suci Menjaga Bumi yang Tak Boleh Diabaikan

Khutbah Jumat 25 September 2026: Mengurangi Dampak Perubahan Iklim, Amanah Suci Menjaga Bumi yang Tak Boleh Diabaikan
Wakaf Masjid Istiqlal di Saham Menuai Sorotan Publik
A A Ukuran Teks16px

Di tengah deru modernisasi yang kian tak terbendung, umat Islam dihadapkan pada sebuah tantangan eksistensial yang nyata: perubahan iklim. Fenomena ini bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di masa depan, melainkan realitas yang setiap hari memukul pintu kesadaran kita melalui cuaca ekstrem, bencana alam yang semakin sering terjadi, dan kerusakan ekosistem yang mengancam keberlangsungan hidup.

Menyikapi hal tersebut, Khutbah Jumat edisi 25 September 2026 ini hadir membawa pesan spiritual yang mendalam sekaligus menggugah. Teks khutbah yang dilansir dari laman Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Bengkulu ini mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan kembali peran umat Islam sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di muka bumi) yang memiliki tanggung jawab moral dan religius untuk menjaga kelestarian alam.

Berikut adalah ulasan mendalam dan teks lengkap khutbah yang telah dikembangkan dengan perspektif jurnalistik, emosional, dan praktis agar lebih mengena di hati serta mudah dipahami oleh masyarakat luas.


Khutbah Pertama: Bumi Adalah Amanah, Bukan Warisan untuk Dirusak

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ. يَاأَيُّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلَاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَاأَيُّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Atas limpahan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan berharga, kita masih dipertemukan di hari yang penuh berkah ini. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia menegakkan risalah kebenaran hingga akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Saat ini, kita sedang berdiri di persimpangan sejarah yang kritis. Bumi yang kita pijak sedang "menangis". Perubahan iklim telah bermetamorfosis menjadi ancaman global yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia. Mulai dari gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan, banjir bandang yang melanda pemukiman, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

Sebagai umat Islam, kita tidak boleh tinggal diam. Menjaga bumi agar tetap lestari dan berkelanjutan bukanlah sekadar gerakan sosial atau tren lingkungan hidup, melainkan sebuah kewajiban agama yang melekat pada identitas keimanan kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan peringatan keras melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 11:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Artinya: "Dan ketika dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,' mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang membuat perbaikan.'"

Ayat ini menyingkap sebuah ironi yang masih sangat relevan hingga hari ini. Banyak pihak yang merasa bahwa eksploitasi besar-besaran terhadap alam adalah bentuk "pembangunan" atau "perbaikan". Padahal, di mata Allah, tindakan yang merusak keseimbangan ekosistem adalah bentuk fasad (kerusakan) yang nyata. Kita diingatkan untuk tidak terjebak dalam pembenaran diri, melainkan benar-benar bertindak sebagai agen perbaikan (muslihun) yang merawat amanah Allah ini.

Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Perubahan iklim adalah akumulasi dari aktivitas manusia yang mengabaikan kelestarian alam. Penggundulan hutan secara masif, ketergantungan berlebihan pada bahan bakar fosil, dan budaya konsumtif yang boros adalah akar dari permasalahan ini. Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), mengajarkan akhlak mulia terhadap lingkungan.

Salah satu langkah fundamental yang dapat kita lakukan adalah mengubah pola konsumsi. Kita harus berani mengurangi penggunaan energi yang berlebihan dan mulai beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Allah SWT secara tegas melarang sikap berlebihan (israf) dalam segala hal, termasuk dalam hal menikmati sumber daya alam.

Dalam Surat Al-A’raf ayat 31, Allah SWT berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ حُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: "Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan."

Ayat ini adalah prinsip hidup yang universal. Hidup sederhana dan tidak boros bukan berarti hidup miskin, melainkan hidup yang penuh kesadaran. Dengan mengurangi jejak karbon melalui penghematan listrik, air, dan mengurangi sampah, kita sedang mempraktikkan kecintaan kita kepada Sang Pencipta.

Hadirin yang berbahagia,

Selain penghematan, aksi nyata yang sangat dianjurkan adalah penghijauan. Menanam pohon adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir (jariyah). Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Artinya: "Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, kemudian pohon/tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari)

Bayangkan dahsyatnya pahala ini. Setiap helai daun yang menghasilkan oksigen, setiap buah yang memberi nutrisi, dan setiap akar yang menahan erosi, semuanya tercatat sebagai amal jariyah kita. Menanam pohon adalah bentuk perlawanan damai terhadap pemanasan global dan upaya menjaga keseimbangan ekosistem yang vital bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi.

Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Aspek krusial lainnya yang sering kali kita abaikan adalah pengelolaan sampah. Sampah, khususnya plastik sekali pakai, telah menjadi bom waktu bagi lingkungan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya mencemari tanah dan sumber air, tetapi juga menyumbat saluran drainase yang memicu banjir, serta mencemari lautan dan membunuh biota laut.

Seringkali kita menganggap remeh tindakan kecil terkait kebersihan. Padahal, dalam Islam, menghilangkan gangguan dari jalan adalah cabang dari iman. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ: وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Artinya: "Ada seorang lelaki yang melewati dahan pohon yang menghalangi jalan, lalu ia berkata, 'Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini agar tidak mengganggu dan menyakiti kaum muslimin,' maka Allah pun memasukkannya ke surga." (HR. Muslim)

Jika menyingkirkan dahan pohon saja bisa menjadi tiket masuk surga, betapa besar pahala bagi mereka yang konsisten mengelola sampah, mendaur ulang, dan menjaga kebersihan lingkungan komunitasnya. Tindakan sederhana ini adalah wujud nyata kepedulian dan kasih sayang kita kepada sesama makhluk Tuhan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup khutbah pertama, marilah kita bertekad untuk menjadi teladan dalam menjaga lingkungan. Revolusi hijau tidak harus dimulai dari hal yang besar dan rumit. Mulailah dari langkah kecil di rumah: matikan lampu yang tidak perlu, pisahkan sampah organik dan anorganik, tanam satu pohon di pekarangan, dan dukung kebijakan yang pro-lingkungan. Jika setiap dari 200 juta lebih umat Islam di Indonesia melakukan perubahan kecil ini, dampaknya akan luar biasa dahsyat bagi penyelamatan bumi kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


Khutbah Kedua: Doa dan Komitmen untuk Bumi yang Lebih Baik

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk larangan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Mari kita jadikan keimanan kita sebagai penggerak aksi nyata penyelamatan lingkungan.

Marilah kita bersama-sama memanjatkan doa, memohon perlindungan dan keberkahan untuk bumi pertiwi dan seluruh alam semesta:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ، وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru