Hadirin jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah SWT,
Perubahan iklim adalah akumulasi dari aktivitas manusia yang mengabaikan kelestarian alam. Penggundulan hutan secara masif, ketergantungan berlebihan pada bahan bakar fosil, dan budaya konsumtif yang boros adalah akar dari permasalahan ini. Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), mengajarkan akhlak mulia terhadap lingkungan.
Salah satu langkah fundamental yang dapat kita lakukan adalah mengubah pola konsumsi. Kita harus berani mengurangi penggunaan energi yang berlebihan dan mulai beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Allah SWT secara tegas melarang sikap berlebihan (israf) dalam segala hal, termasuk dalam hal menikmati sumber daya alam.
Dalam Surat Al-A’raf ayat 31, Allah SWT berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ حُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: "Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan."
Ayat ini adalah prinsip hidup yang universal. Hidup sederhana dan tidak boros bukan berarti hidup miskin, melainkan hidup yang penuh kesadaran. Dengan mengurangi jejak karbon melalui penghematan listrik, air, dan mengurangi sampah, kita sedang mempraktikkan kecintaan kita kepada Sang Pencipta.
Hadirin yang berbahagia,
Selain penghematan, aksi nyata yang sangat dianjurkan adalah penghijauan. Menanam pohon adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir (jariyah). Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ