Industri drama mikro China mencatat lonjakan besar tahun ini dengan nilai lebih dari 100 miliar yuan atau setara Rp264,37 triliun.
Jumlah pengguna drama mikro di negara itu menembus 800 juta orang, menurut laporan yang dikutip CNN Indonesia.
Pertumbuhan itu tercermin dari volume produksi yang meroket sepanjang delapan bulan pertama 2026.
China telah meluncurkan 430 ribu judul drama mikro, melonjak 13 kali lipat dibandingkan akumulasi 2025.
AI Dominasi Produksi Drama Mikro
Kantor berita Global Times pada Kamis (17/9) memberitakan lebih dari 90 persen judul anyar tersebut diproduksi dengan mengandalkan efisiensi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ledakan produksi berbasis AI ini dinilai pelaku industri lokal sebagai pergeseran peta konten yang tak lagi bisa dibendung.
Sutradara Fu Weiwei menggambarkan transisi dari sinematografi tradisional menuju era AI bersifat permanen.
Ia menyamakannya dengan fenomena kehadiran bioskop yang dulu menggeser seni teater atau internet yang menggerus eksistensi siaran televisi.
Pemanfaatan model AI generator video lokal kini sanggup memangkas biaya operasional dan mempercepat proses pra-produksi secara drastis.
Cara itu dinilai menghilangkan kebutuhan menggelar syuting lokasi yang mahal.
Namun, lonjakan ekspansif ini memicu kewaspadaan dari otoritas penyiaran Tiongkok (NRTA).
Direktur Departemen Manajemen Program Audio Visual Online NRTA, Wang Xiaoliang, mengingatkan derasnya gempuran konten AI tetap menuntut kontrol kualitas dan perlindungan hak cipta yang ketat.
Pemerintah China menggariskan aturan main lewat kewajiban pelabelan transparan pada karya buatan AI serta izin atas penggunaan wajah dan suara.
Otoritas juga menertibkan sedikitnya 68 ribu judul drama mikro yang dinilai melanggar regulasi sepanjang 2026.
Tak cuma mendominasi pasar domestik, rekor pertumbuhan drama mikro ini dimanfaatkan otoritas setempat sebagai amunisi baru diplomasi budaya ke panggung internasional.
Dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), pemerintah Tiongkok siap memfasilitasi ekspansi platform digital dan konten audio visual lokal.
Langkah itu diarahkan agar konten lokal mampu menembus serta memikat audiens global secara lebih terstruktur.