unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Drayang Kijang Kencana: Wayang Kulit yang Menyapa Zaman Lewat Drama Musikal
Hiburan

Drayang Kijang Kencana: Wayang Kulit yang Menyapa Zaman Lewat Drama Musikal

Pertunjukan drayang Kijang Kencana memadukan wayang kulit dan drama musikal di panggung teater
Drayang Kijang Kencana: Wayang Kulit yang Menyapa Zaman Lewat Drama Musikal
A A Ukuran Teks16px

Sanggar tari Swargaloka membuktikan seni tradisional tak harus kaku dan kuno. Lewat pertunjukan drama wayang bertajuk Kijang Kencana, mereka menampilkan wayang yang relevan dan kekinian.

Pertunjukan digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Minggu (13/9). Drayang merupakan drama wayang yang memadukan unsur seni budaya tradisional dan modern.

Dalam epos Ramayana, seekor kijang jadi-jadian berhasil memancing Rama dan Laksmana hingga Shinta diculik Rahwana.

Namun drayang Kijang Kencana mengajak penonton menyelami kisah si kijang, jelmaan raksasa bernama Kalamarica alias Cakil.

Kisah Kalamarica dan Bayang-Bayang Wayang Kulit

Pertunjukan dibuka dengan siluet Gunungan dan sejumlah tokoh wayang diiringi tetabuhan. Latar panggung terasa seperti kelir, layar kain putih dengan bayang-bayang wayang kulit.

Narator menyapa penonton dengan kalimat tentang Rahwana yang cintanya terus menunggu tak peduli zaman berganti. Bayangan Semar pun muncul.

Ansambel pepohonan kemudian hadir, menari mengiringi kemunculan Kalamarica. Ia menjalani hidup tanpa beban karena merasa ada ibunda yang menjaganya.

Semua berubah setelah ibunya berpulang.

Kalamarica menangisi sang ibu yang terluka akibat panah, tanpa tahu panah itu milik Rama, ksatria yang sempat ia kagumi.

Kisah lalu menyusur muasal pembuangan Rama, Shinta, dan Laksmana ke hutan Dandaka.

Bagian ini memadukan siluet Prabu Dasarata dan Dewi Kekayi yang berdebat, disaksikan Rama, Shinta, dan Laksmana di panggung.

Sementara itu, Kalamarica disambut para raksasa di Alengka dan dijanjikan hidup lebih baik oleh Rahwana. Adik Rahwana, Sarpakenaka, menyambutnya hingga ia menjadi salah satu anak buah kepercayaan Rahwana.

Rahwana meyakinkan Kalamarica bahwa dunia akan berpihak pada mereka yang tidak diam. Bara akan menyala untuk cinta yang berkuasa, katanya.

Live Music, Dansa, dan Candaan Kekinian

Drayang mengandalkan live music dengan paduan gamelan dan instrumen modern. Di momen tertentu, pukul drum membuat suasana terasa lebih dar-der-dor.

Kemasan drama musikal menuntut para pemain menyanyi dan menari. Tariannya tak sebatas gerak tari Jawa yang halus atau tari modern yang enerjik.

Salah satu yang menarik perhatian adalah gerakan dansa yang diperagakan Laksmana dan Sarpakenaka. Dialog antarpemain juga menyelipkan bahasan yang sedang tren di kalangan muda.

Sarpakenaka menyanyikan lagu My Mine Gueh milik Naykilla.

Ada pula tawa ang-ang-ang Shinta dan ringkasan cerita yang diawali dengan Pemirsa Insert, melaporkan langsung dari tempat peristiwa.

Candaan pinggir jurang yang mengkritik sikap pemerintah juga muncul. Kamu jadi wakil tapi beneran kerja lho, ujar salah satu anggota pasukan raksasa Alengka, disambut tawa penonton.

Kijang Kencana jelmaan Kalamarica mendekati Shinta untuk memuluskan rencana Rahwana. Si kijang tak sekadar mengalihkan perhatian Rama dan Laksmana, tetapi juga berkawan akrab dengan Shinta.

Di sela penampilan para pemain, pertunjukan tetap menghadirkan wayang kulit yang dimainkan dalang. Kehadirannya menjadi bagian dari cerita, bukan tontonan yang berdiri sendiri.

Sejumlah unsur wayang kulit pun dihadirkan, mulai dari Gunungan atau Kayon, adegan di keraton Ayodya, hingga banyolan kelompok raksasa yang mengingatkan pada bagian Gara-gara atau kemunculan Punakawan.

Ada pula bagian pertarungan saat Rama dan Laksmana tahu bahwa sosok kijang sebenarnya raksasa utusan Rahwana.

Sejumlah catatan muncul dari pementasan ini. Beberapa dialog kurang jelas artikulasinya, terutama saat Kalamarica mengenakan topeng khas Cakil sehingga kesulitan menyampaikan dialog.

Narator yang menyampaikan pengantar di awal pertunjukan dinilai mungkin lebih menarik jika disatukan dengan narasi dalang bersama wayang kulitnya.

Kendati demikian, drayang mampu memberikan suguhan yang bisa dinikmati dari awal sampai akhir nyaris tanpa rasa bosan.

Padahal pentas berjalan cukup panjang, dari pukul 15.00 sampai sekitar pukul 18.00, diselingi istirahat 15 menit.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru