Drama "Sumire Hair Salon" karya penulis dan sutradara Zainichi Jeong Ui-sin, 69 tahun, resmi dipentaskan untuk penonton Korea.
Pementasan berlangsung di M Theater, Sejong Center for the Performing Arts, 14 tahun setelah debutnya di Jepang.
Kisahnya berpusat pada keluarga etnis Korea yang hidup di kota tambang batu bara di Kyushu, Jepang, pada 1960-an.
Tokoh utamanya, Sumi, anak kedua dari tiga bersaudara, bermimpi membuka salon rambut.
Berbagai tragedi mewarnai cerita, termasuk kecelakaan tambang dan serangan akibat keracunan karbon monoksida.
Di tengah keputusasaan itu, ayah Sumi mendorong putrinya dan suaminya untuk terus hidup.
Penutup Trilogi Zainichi
"Sumire Hair Salon" menjadi bagian terakhir dari "trilogi Zainichi" Jeong.
Dua karya sebelumnya adalah "For Example, Like a Flower Blooming in the Field" (2007) dan "Yakiniku Dragon" (2008).
Jeong lahir dan besar di Himeji, Jepang, wilayah dengan populasi Zainichi yang besar.
Zainichi merujuk pada etnis Korea yang keluarganya telah tinggal di Jepang selama beberapa generasi.
Karya Jeong dikenal mengangkat kehidupan orang biasa ke atas panggung.
Ia melihat liku-liku sejarah melalui kehidupan sehari-hari, bukan melalui tokoh heroik yang namanya tercatat dalam sejarah.
Menurut Jeong, menunjukkan bagaimana orang berubah dan hidup mereka terdistorsi akibat suatu peristiwa lebih mengungkap tanggung jawab atas kecelakaan itu.
Ia juga ingin mencatat bahwa pekerja asing, Zainichi, dan pekerja Jepang miskin adalah pihak yang menopang ekonomi Jepang.
Hal itu disampaikannya meski Jepang saat ini menolak pekerja asing dan Zainichi.
Drama Jeong menekankan sisi aneh dan lucu dari manusia.
Para tokoh tetap makan, bertengkar, dan jatuh cinta meski hidup mereka tidak menentu.
Jeong menilai pemandangan orang makan sambil menangis saat menderita adalah eksistensi manusia itu sendiri.
Kesedihan dan penderitaan tidak hilang, melainkan harus dibawa sampai mati.
Pesan agar manusia bertahan meski tidak melihat apa yang ada di depan menjadi lebih konkret melalui keluarga Sumi.
Seperti keluarga Jeong sendiri, keluarga Sumi berisi orang dengan kewarganegaraan Korea Selatan, Korea Utara, dan Jepang.
Naruhiro, suami Sumi, berkewarganegaraan Jepang, sementara ayahnya menolak melepaskan kewarganegaraan Korea Utara.
Karakter kuat para saudari Sumi juga mencerminkan ibu dan bibi Jeong.
Jeong menyebut keluarganya memiliki kewarganegaraan berbeda, tetapi tetap berkumpul untuk melaksanakan ritual leluhur.
Ia menilai masyarakat terbentuk dari berbagai jenis orang yang berkumpul.
Cara anggota keluarga saling melukai juga menjadi elemen berulang dalam karya Jeong.
Menurutnya, Zainichi memiliki perasaan cinta dan dendam yang sangat kuat dalam keluarga.
Orang sering berpacaran dan menikah dalam komunitas Korea-Jepang yang kecil, sehingga hubungan antarkeluarga semakin terjalin erat.
Teater sebagai Ritual
Bagi Jeong, teater berarti membawa kembali kenangan menyakitkan ke permukaan.
Salah satunya saat ia menyaksikan neneknya menyatakan ingin mati.
Namun, teater tidak berhenti pada mengingat.
Orang asing berkumpul di ruang yang sama, menonton kisah yang sama, dan menemukan momen penghiburan.
Jeong menyebut teater sebagai ritual, semacam upacara peringatan tempat penonton dan aktor berbagi ruang, mengakui kesepian masing-masing, dan saling menghibur.
Panggung bukan mimpi satu orang, melainkan tempat penonton dan orang di atas panggung menciptakan satu mimpi bersama.
Itulah alasan teater tetap diperlukan di era yang penuh konten.
Vitalitas teater, tempat orang bertemu, berinteraksi, dan merasakan kehangatan satu sama lain, adalah hal yang dibutuhkan manusia.
Minat Jeong melampaui komunitas Zainichi.
Karya berikutnya yang ingin ia perkenalkan kepada penonton Korea adalah "Children of the Sea," yang telah dipentaskan beberapa kali di Jepang.
Drama tanpa dialog itu menggabungkan mime, musik, dan tari.
Kisahnya tentang anak-anak yang bermain di tepi laut dan terjebak dalam perang.
Jeong ingin menceritakan kisah orang-orang tanpa nama yang hilang, tersapu gelombang sejarah.
Ia berharap penonton Korea melihat "Sumire Hair Salon" bukan sebagai kisah lama di Jepang, melainkan kisah tentang diri mereka, keluarga, dan orang di sekitar.
Di akhir buku program, Jeong menulis harapannya agar seruan para tokoh mencapai hati penonton Korea.
Ia juga berharap tumbuh harapan seperti violet kecil yang mekar di tepi jalan.
Pementasan berlangsung hingga Sabtu.
