Pagi hari Minggu, 20 September 2026, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga besar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan seluruh pihak yang pernah bersentuhan dengan dedikasinya. Kabar yang tak pernah diinginkan oleh siapa pun akhirnya datang: Jarwansah Sekedang, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, seorang sahabat, kolega, dan pejuang kemanusiaan, telah berpulang ke rahmatullah di RS Brawijaya Saharjo, Jakarta Selatan.
Kabar duka ini disampaikan secara langsung oleh dr. Yamin, seorang dokter ahli jantung yang juga merupakan sesama putra Aceh serta sahabat dekat almarhum. Pesan singkat yang diterimanya pagi itu seolah menghentikan waktu, membuat pagi yang seharusnya cerah terasa begitu panjang dan hening. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ada kematian yang hanya kita terima sebagai sekadar berita di kepala halaman media. Namun, ada pula kematian yang terasa seperti merobek paksa satu halaman penting dari buku kehidupan kita sendiri. Kepergian Jarwansah, bagi mereka yang mengenalnya secara dekat, adalah yang terakhir. Ia bukan sekadar angka dalam statistik kematian, melainkan sosok yang selama ini sibuk memastikan angka-angka korban bencana berubah kembali menjadi manusia yang utuh dan penuh harapan.
Akar Aceh dan Awal Pengabdian yang Tulus
Untuk memahami siapa Jarwansah, kita harus menelusuri jejaknya yang bermula jauh dari sorotan kamera, sirene ambulans, atau pos komando darurat. Lahir di Tanah Rencong pada 30 Agustus 1970, Jarwansah adalah produk dari ketangguhan masyarakat Aceh. Karakternya ditempa oleh filosofi tanah kelahirannya: bahwa hidup sangat dekat dengan Tuhan, dan setiap ujian adalah jalan untuk kembali kepada-Nya.
Jalan pengabdian almarhum tidak dimulai dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari ruang kelas yang sederhana. Ia mengawali kariernya sebagai guru di SMEA Negeri Kutacane pada periode 1995 hingga 2001. Di sanalah, benih-benih kesabaran, empati, dan kemampuan mendengarkan orang lain pertama kali ia asah. Dari dunia pendidikan, ia kemudian melanjutkan pengabdiannya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, mengabdi di Dinas Pendidikan dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Takdir kemudian menuntunnya pada panggilan yang lebih besar: dunia kebencanaan. Ia pernah memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh, sebuah pengalaman yang memberinya pemahaman mendalam tentang luka dan harapan masyarakat di garis depan bencana.
Menapaki Tangga Kepemimpinan di BNPB: Lebih dari Sekadar Jabatan
Rekam jejak Jarwansah di tingkat nasional terus menanjak, bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena kebutuhan bangsa akan pemimpin yang memiliki hati untuk korban. Ia memulai langkahnya di BNPB dari level kepala subdirektorat, kemudian dipercaya menjadi direktur yang menangani kedaruratan dan sumber daya darurat.
Puncak kepercayaan negara kepadanya terjadi pada 10 Juni 2021, ketika ia dilantik oleh Kepala BNPB saat itu, Letjen TNI Ganip Warsito, sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Perjalanan panjangnya melintasi beberapa era kepemimpinan BNPB, mulai dari masa Mayjen TNI (Purn.) Syamsul Maarif, Willem Rampangilei, masa-masa penuh dinamika bersama Letjen TNI Doni Monardo, hingga meneruskan estafet kepemimpinan di bawah Letjen TNI Suharyanto.
Bagi Jarwansah, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak pernah sekadar tentang menuangkan beton atau menyusun ulang bata. Ia memahami bahwa di balik keterangan "satu rumah rusak berat", ada sebuah keluarga yang kehilangan tempat berteduh dan kenangan. Di balik jembatan yang putus, ada kehidupan ekonomi yang terhambat. Dan di balik angka korban yang dingin, selalu ada nama, wajah, dan air mata yang nyata. Baginya, membangun kembali infrastruktur adalah ikhtiar suci untuk memulihkan kehidupan dan menyalakan kembali harapan yang sempat padam.
Detik-Detik Mencekam di Langit Tahuna: Ikatan Persahabatan yang Tak Terputus
Salah satu kisah yang paling melekat erat dalam ingatan para sahabatnya, termasuk jurnalis senior Egy Massadiah, adalah perjalanan dinas pada 6 Januari 2020. Saat itu, mereka mendampingi Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo untuk meninjau lokasi bencana di Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Setelah meninjau lokasi, rombongan bersiap kembali ke Manado menggunakan helikopter. Ada sembilan orang di dalam pesawat tersebut. Namun, hanya dalam hitungan detik setelah lepas landas dari Lapangan Gesit, Tahuna, keadaan berubah drastis. Angin kencang menghantam badan pesawat, membuat helikopter kehilangan kestabilan dan oleng.
Dalam situasi seperti itu, manusia tiba-tiba sadar betapa tipisnya jarak antara rencana dan takdir. Namun, Allah masih memberi mereka waktu. Dengan kehati-hatian luar biasa dari pilot, helikopter berhasil mendarat darurat dengan selamat. Tidak ada korban jiwa. Mereka turun dari helikopter dengan kaki yang masih bisa menginjak bumi, meski jantung berdetak jauh lebih keras daripada suara rotor yang baru saja berhenti.
Hari itu, Doni Monardo, Jarwansah, dan Egy Massadiah seakan-akan mendapat "pinjaman kehidupan" sekali lagi. Doni Monardo telah berpulang lebih dahulu. Kini, Jarwansah menyusul. "Kami pernah jatuh bersama dari langit Tahuna. Rupanya, Tuhan hanya sedang menunda perpisahan," kenang seorang sahabat dekat almarhum dengan mata berkaca-kaca.
Filosofi "Apa yang Bisa Kita Bantu?" di Tengah Birokrasi
Di tengah mesin birokrasi yang terkadang terlalu sibuk dengan disposisi, paraf, dan jenjang kewenangan, Jarwansah memilih untuk berbicara dengan bahasa yang jauh lebih sederhana dan membumi: "Apa yang bisa kita bantu?"
Kalimat pendek ini memiliki resonansi yang luar biasa. Dalam dunia kebencanaan, kalimat tersebut bisa berarti pengiriman logistik nasi hangat ke tempat pengungsian yang terisolasi, sebuah keluarga yang akhirnya mendapatkan kembali atap di atas kepala mereka, atau jalan putus yang segera tersambung. Lebih dari itu, kalimat itu adalah pesan moral bahwa negara tidak pernah meninggalkan warganya di saat paling rapuh.
Ketangguhan dan dedikasinya terbukti nyata saat pandemi Covid-19 mendera negeri ini. Jarwansah menjadi salah satu pejabat tinggi yang memilih untuk menginap di kantor BNPB. Ia menolak untuk berjarak dari tanggung jawabnya, menunjukkan wujud nyata kepemimpinan yang melayani di garda terdepan Satuan Tugas Penanganan Covid-19.
Pulang ke Tanah Kelahiran: Pengabdian Terakhir untuk Aceh
Salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan karier almarhum terjadi pada akhir tahun 2025, ketika bencana kembali menerpa tanah kelahirannya, Aceh. Dengan tugas negara yang berat di pundaknya, Jarwansah "pulang". Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk hadir, memimpin, dan membantu menyembuhkan luka tanah yang melahirkannya.
Seorang putra Aceh terbaik kembali ke rumah, membawa serta seluruh pengalaman, jaringan, dan empati yang ia kumpulkan selama puluhan tahun mengabdi untuk Indonesia. Ia membuktikan bahwa pengabdian tertinggi adalah ketika seseorang menggunakan segala yang dimilikinya untuk membalas budi pada tanah leluhurnya.
Warisan Abadi: Monumen yang Tak Terbuat dari Batu
Hari ini, teleponnya memang tidak akan lagi menjawab. Kursinya di Graha BNPB akan terlihat kosong, dan langkah kakinya yang tegas menuju ruang rapat tidak lagi terdengar. Namun, dalam kearifan Aceh yang berakar kuat pada Islam, kematian bukanlah perjalanan menuju ketiadaan. Kematian adalah "pulang". Manusia datang membawa amanah, hidup sebentar, dan pergi meninggalkan jejak.
Maka, kita tidak sepenuhnya kehilangan Jarwansah. Ia akan tetap hidup dalam rumah-rumah korban bencana yang kembali berdiri kokoh. Ia akan hidup dalam keluarga yang menemukan kembali tempat pulang, dalam pegawai muda BNPB yang pernah belajar tentang integritas darinya, serta dalam kehidupan orang-orang yang mungkin tidak pernah mengenal wajahnya, tetapi pernah merasakan manfaat dari kerja kerasnya.
Sepanjang hidup profesionalnya, Jarwansah sibuk membantu manusia bangkit setelah bencana. Barangkali tanpa disadarinya, selama itu pula ia sedang membangun monumen kehidupannya sendiri. Bukan dari batu nisan, bukan pula dari prasasti perunggu, melainkan dari pertolongan tulus yang ia berikan kepada sesama.
Kepada istri, anak-anak, dan seluruh keluarga besar yang ditinggalkan, kami turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga Allah SWT memberikan ketabahan dan kekuatan luar biasa. Kehilangan seorang suami, ayah, dan tempat bersandar tidak akan pernah dapat digantikan oleh jabatan, pangkat, ataupun deretan penghargaan.
Kepada keluarga besar BNPB, tabahlah. Hari ini, dunia kebencanaan Indonesia kehilangan seorang pekerja kemanusiaan sejati—seseorang yang tahu bagaimana cara datang ketika bencana terjadi, dan tetap bekerja keras bahkan ketika kamera-kamera media telah pergi meninggalkan lokasi.
Kepada sahabat kami, Jarwansah, akhirnya kami harus mengucapkan sesuatu yang sesungguhnya sangat berat untuk diucapkan: Perjalanan kita ternyata sampai di sini.
Kita pernah naik helikopter bersama. Pernah hampir jatuh bersama. Pernah diselamatkan bersama. Namun, pagi ini engkau berangkat sendiri. Perjalananmu kali ini tidak lagi memerlukan helikopter, kendaraan lapangan, surat tugas, rompi BNPB, ataupun pos komando.
Selamat jalan, sahabat. Aceh telah melahirkanmu. Indonesia menjadi ladang pengabdianmu. Bencana-bencana menempa hidupmu. Dan kebaikanlah yang kelak membuat orang mengingatmu.
Semoga setiap rumah yang pernah engkau bantu bangun kembali menjadi saksi amalmu. Setiap tangan yang pernah engkau genggam menjadi doa yang tak terputus. Setiap air mata yang pernah engkau bantu usap menjadi penerang perjalananmu menuju keabadian.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Selamat jalan, Jarwansah Sekedang. Engkau telah begitu lama mengurus kehidupan orang lain setelah bencana. Sekarang, tugasmu telah selesai. Pulanglah. Beristirahatlah dengan tenang. Kami yang masih tinggal di dunia fana ini akan terus mengenangmu.
Dan setiap kali kami mendengar suara helikopter mengoyak langit, ingatan kami mungkin akan kembali ke Tahuna—kepada sebuah pagi ketika kita pernah jatuh bersama, lalu bangkit bersama. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal pengabdianmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.