unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Mobil Bekas Konvensional di Bawah Rp 200 Juta Tetap Laris di Tengah Tren Mobil Listrik Murah
News

Mobil Bekas Konvensional di Bawah Rp 200 Juta Tetap Laris di Tengah Tren Mobil Listrik Murah

Deretan mobil bekas konvensional di pasar mobil
Mobil Bekas Konvensional di Bawah Rp 200 Juta Tetap Laris di Tengah Tren Mobil Listrik Murah
A A Ukuran Teks16px

Pasar mobil bekas berbahan bakar minyak dengan harga di bawah Rp 200 juta masih menunjukkan daya tarik kuat di tengah penetrasi kendaraan listrik murah.

Segmen ini menjadi salah satu yang paling cepat terserap oleh konsumen pasar otomotif nasional saat ini.

Toni, pemilik diler Gabe Mobilindo di Pasar Mobil Kemayoran, mengungkapkan bahwa unit yang paling cepat laku adalah mobil dengan harga di bawah Rp 100 juta hingga Rp 100 juta kecil.

Model seperti Toyota Veloz keluaran 2013 seharga Rp 120 jutaan masih diminati, dengan unit buatan pabrikan Jepang cenderung lebih cepat terjual dibandingkan merek non-Jepang.

Toni menambahkan bahwa permintaan untuk Avanza dan Veloz masih ada, sementara mobil non-Jepang agak sulit bergerak.

Gempuran mobil listrik murah dinilai tidak memengaruhi depresiasi harga mobil konvensional berusia tua rakitan di bawah tahun 2015.

Hendrik, pemilik diler Auto 95, memaparkan bahwa mobil-mobil tua justru tidak terlalu terpengaruh.

Ia menyebut unit di bawah tahun 2015 masih oke dan cukup banyak dicari.

Beberapa model seperti Toyota Kijang Innova 2013 dan Isuzu Panther memiliki harga yang stabil.

Isuzu Panther banyak diminati konsumen dari daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, hingga NTT.

Hendrik menjelaskan bahwa Kijang Innova masih dicari dengan harga stabil, sedangkan Panther biasa dijual ke daerah-daerah tersebut.

Unit berjarak tempuh rendah seperti Toyota Avanza 2010 dengan odometer 40.000 km masih laku di angka Rp 100 jutaan kecil.

Model Toyota Sienta hingga Avanza di bawah Rp 200 juta tetap potensial.

Konsumen memilih mobil konvensional bekas karena kemudahan perbaikan, kepraktisan, serta ketersediaan suku cadang yang terjamin dibandingkan memboyong kendaraan listrik.

Hendrik menuturkan bahwa orang dengan budget Rp 200 juta belum tentu membeli mobil listrik karena kekhawatiran, sementara mobil seperti Avanza sudah terjamin dan mudah diperbaiki.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru