Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 56,72 poin atau 0,90 persen ke posisi 6.241,89 pada perdagangan Jumat (25/9/2026).
Penurunan indeks terjadi seiring melemahnya mayoritas bursa kawasan Asia serta berlanjutnya tekanan jual bersih oleh investor asing.
Data perdagangan mencatat frekuensi transaksi mencapai 1,58 juta kali dengan volume 26,20 miliar lembar saham senilai Rp9,37 triliun.
Sebanyak 587 saham turun, 122 saham naik, dan 254 saham stagnan. Seluruh sebelas sektor IDX-IC berada di zona merah, dipimpin sektor industri yang anjlok 2,30 persen.
Tekanan Jual Asing dan Saham yang Dilepas
Tekanan di pasar modal domestik terdorong aksi pelepasan portofolio oleh investor asing. Pada sesi I, nilai penjualan bersih asing tercatat Rp355,78 miliar.
Angka itu melanjutkan tren net sell senilai Rp1,5 triliun pada hari sebelumnya.
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi target lepas asing terbesar dengan net sell Rp43,75 miliar.
Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp37,84 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp34,71 miliar.
Meski secara keseluruhan pasar tertekan, investor asing tetap melakukan aksi beli bersih pada sejumlah emiten.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin net buy asing senilai Rp15,65 miliar, diikuti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp9,83 miliar dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp8,59 miliar.
Sikap hati-hati pelaku pasar turut terpengaruh berbagai faktor eksternal dan pergerakan bursa makro kawasan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memberikan analisisnya mengenai dinamika pasar regional tersebut.
"Jelang akhir pekan ini, IHSG dan bursa regional Asia cenderung melemah.
Pelaku pasar tampaknya terus memantau negosiasi AS dan China yang dapat membuka jalan bagi perjanjian perdagangan baru," ujar Nico.
Pengaruh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang tetap tinggi juga menjadi perhatian investor.
Nico menambahkan, kehati-hatian investor dalam negeri meningkat jelang rilis data neraca perdagangan Agustus 2026 dan inflasi September 2026 pada pekan mendatang.
Sementara itu, Ciptadana Sekuritas Asia memberikan rekomendasi strategi Buy on Weakness untuk empat saham pilihan di tengah fase koreksi pasar.
Keempatnya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada area Rp3.450, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di Rp6.900, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) di Rp2.660, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di area Rp2.350.